Kamis, 16 April 2015

Anak Manja, Jauhi Alam Bebas

Hey anak manja, bisakah kalian jauhi alam bebas?
Sebelum kalian pahami aturan main ketika ke alam bebas
Karena sepertinya kehadiran kalian justru merusak keharmonisan
Tolonglah jauhi, mungkin alam bebas bukan tempat kalian.

Hey anak manja, yang petantang petenteng pakai duit orang tua
Bisakah kalian menghabiskan waktu di Mall saja
Yang sejuk karena AC dan ada Cleaning Servicenya
Sesuka hati kalianlah di Mall, mau buang sampah dimana saja terserah.

Hey anak manja, yang meninggalkan sampahnya di alam bebas
Papi Mami kamu pasti tidak pernah mengingatkan
Bahwa di alam bebas tidak ada Cleaning Service-nya
Tapi harusnya otakmu bisa memikirkan itu, kalau saja kamu tidak manja.

Hey anak manja, apa yang kamu cari di alam bebas?
Photo dengan background alam yang bisa kamu pamerkan di akun instagram
Bahan buat tulisan di Blog untuk menyombongkan kebiasaanmu berpetualang
Tapi selebihnya apa? Sampahmu kamu tinggalkan disana. Bangsat kalian..!!!

Hey anak manja, menjauhlah dari alam bebas
Selama kamu dan kemanjaanmu belum tahu aturan main
Camkan dalam otakmu yang selalu dipuja puji Mami Papimu itu
Alam bebas bukanlah tempat untuk memuaskan nafsumu akan eksistensi

Ingatlah sekali lagi,
Hey anak manja, yang petantang petenteng pakai duit orang tua
Alam bebas bukanlah tempat untuk memuaskan nafsumu akan eksistensi
Jadi Anak Manja, Mulai Sekarang Menjauhlah dari Alam Bebas..!!!

- Untuk Anak Manja yang menodai Pulau Sempu, Bangsat kalian..!!! -


Selasa, 31 Maret 2015

Maret Mengingatkanku

Maret segera berlalu.
Bulan yang berkesan. 
Mengingatkanku kembali pada sesuatu yang sempat pergi.

Pertama kali menekuni dunia Stand Up Comedy, saya memang sudah berniat untuk menyuarakan aspirasi, gagasan, keresahan dan pandangan saya mengenai Indonesia Timur. Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di Kawasan Indonesia Timur, saya merasa ada banyak hal yang harus dibagikan, bukan sekedar ketertinggalannya, melainkan optimisme yang terus bersemai disana.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kesibukan di Ibukota sungguh menjauhkan saya dari apa yang saya cintai. Sebelumnya, setiap tahun ada saja wilayah Indonesia Timur yang saya jejaki, Atambua, Sumba, hingga Papua, dan saya sangat mencintai setiap petualangannya. Namun sekarang saya harus terus memenuhi tuntutan aktivitas di Ibukota yang sangat menyita energi. Dan jauh dilubuk hati, saya merasakan kerinduan yang terdalam.

Maret mengingatkanku.
Mengingatkanku kembali pada sesuatu yang sempat pergi.

Tanggal 18 dan 19 Maret 2015, adalah tanggal yang akan ku ukir dengan penuh kebanggaan dalam sejarah perjalanan hidup ini. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan tampil dalam pagelaran teater Indonesia Kita, dalam lakon TABIB DARI TIMUR. Pertunjukan yang diprakarsai oleh Butet Kertaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk ini mengangkat isu seputar Indonesia Timur. Saya sangat berterima kasih untuk kesempatan besar ini.

Tabib Dari Timur


Semakin bertambah istimewa karena saya berbagi panggung dengan saudara-saudara saya dari Animal Pop Family besutan Jecko Siompo. Saya sudah berkenalan lama dengan mereka. Pace Jecko, Chun Lao Funky Papua adalah nama yang sudah tidak asing dalam jagad tari. Selain itu Phytos dan Pian yang sudah lebih lama saya kenal, jauh sebelum saya ke Ibukota. Sangat menyenangkan bisa sepanggung dengan mereka. 

Animal Pop Family


Ditambah lagi saya berkesempatan berduet menyanyikan lagu ciptaan Pace Jecko, dengan Audrey Papilaya. Menyanyi berduet dengan seorang Audrey Papilaya, di panggung sebesar itu dan ditonton oleh ratusan orang. Memimpikannya pun saya mana berani. Kemarin itu bahkan adalah pertama kalinya saya memberanikan diri menyanyi dihadapan banyak orang. Dan syukurnya, setelah mendengar suara saya, banyak yang menyarankan saya untuk fokus di dunia komedi saja, dan jangan pernah lagi mencoba bernyanyi.

Berduet nyanyi dengan Audrey Papilaya


Di panggung "Tabib Dari Timur" ini juga saya berkesempatan berbagi tawa dengan Pakde Marwoto, Trio GAM, dan Mas Insan Nur Akbar. Selalu menyenangkan ketika berkolaborasi dengan mereka. Dan tentu saja, antusias penonton yang luar biasa, melengkapi kebahagiaan saya, berkesempatan tampil disini.

Berduet dengan Mas Akbar


Tetpi yang terpenting dari itu semua, di panggung "Tabib Dari Timur" ini, saya menemukan kembali perasaan saya tentang Indonesia Timur. Dengan mengusung tema Indonesia Timur, saya diberikan ruang untuk menyampaikan kembali keresahan-keresahan saya mengenai Kawasan Indonesia Timur.  Kerinduan saya sedikit terobati. Saya merasa kembali dekat dengan semua alasan yang membawa saya keatas panggung. Saya merasa diingatkan dengan misi saya untuk menyuarakan aspirasi dari Kawasan Timur Indonesia.


Tabib Dari Timur

Maret mengingatkanku.
Mengingatkanku kembali pada alasan yang membawa saya hadir di atas panggung.
Karena saya mencintai Indonesia, dengan segala ketimurannya.

Sabtu, 07 Februari 2015

NUSA TAWA, SAMPAI BERJUMPA PULA


Hari Sabtu ini adalah terakhir kalinya program sketsa Nusa Tawa hadir menghiasi layar kaca pemirsa melalui Trans 7. Setelah beberapa bulan bertahan, kami akhirnya harus menerima keputusan final untuk mengistirahatkan program Nusa Tawa. Tentu saja ada perasaan sedih. Karena bagaimana pun juga, sukses ataupun gagalnya acara ini, sedikit banyak saya terlibat langsung dalam proses pembuatannya sejak awal. Saya tentu saja bukan siapa-siapa, masih kecambah dalam rimba pertelevisian yang megah ini. Tetapi melalui Nusa Tawa saya belajar banyak hal, dan yang terutama saya bekerja dengan orang-orang yang menyenangkan. Tentu saja ada perasan sedih ketika semua ini harus berakhir.

Mungkin banyak orang hanya melihat program ini sebagai sekedar tayangan sketsa komedi, seperti yang sudah-sudah. Tetapi bagi saya, mampu menyisipkan unsur kedaerahan ditengah deraan budaya Pop yang sedemikian kuat, merupakan kebahagiaan tersendiri. Bisa bermain bersama Chun Funky Papua, Putri Nere, Billy Beatbox, Ronny Lau, Safiq, Dianda, Agus dan kawan-kawan lainnya, sungguh merupakan kehormatan. Mengikutkan Mop Papua dan memperkenalkan dialek Indonesia Timur dari berbagai pelosok, meskipun sekedar melalui sketsa komedi, tetapi semoga bisa membuat kita bisa saling mengenali satu sama lain. 

Tantangan terbesar dari merakit suatu program komedi adalah harus bisa memuculkan tawa dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai seorang Stand Up Comedian, saya merasa bahwa tekanan dan beban dalam merangkai sebuah set up dan punchline dalam suatu sketsa komedi persis dengan menyusun sebuah one liner. Kita tidak diberikan waktu banyak untuk bisa sampai pada titik tawa. Berbeda dengan Sitkom dan Drama Komedi yang bisa berlama-lama dengan story, sketsa tidak memberikan banyak ruang untuk berbasa-basa. Mungkin memproduksi satu atau dua sketsa tidaklah begitu berat, tetapi untuk secara berkesinambungan menghadirkan sketsa yang bermutu, itu adalah beban kerja yang cukup menyulitkan. Ketika awal menggarap program ini, saya menyumbangkan 48 cerita sketsa, dan hanya cukup untuk enam episode. Setelah itu, kemarau ide cerita pun dimulai, dan ternyata itu tidak semudah yang dibayangkan.

Untungnya, kami bekerja dengan kru yang solid serta penuh kekeluargaan. Yang mau saling membantu mengatasi setiap tantangan yang hadir. Director, tim kreatif dan penulis yang terbuka dengan masukan. Demikian juga  tim editing yang paham mengenai sentuhan akhir, yang mana ini sangat penting peranannya, karena menurut saya comedy timing, itu ada ditangan editor. Selucu apapun cerita yang dibuat, sebaik apapun pengambilan adegan, dan sehebat apapun eksekusi pemerannya, hasil akhirnya ada ditangan editor. Tanpa editor yang baik, komedi bisa saja tidak tersampaikan. Dan diatas itu semua, saya berterima kasih untuk Pak Andi Chairil, Bang Ucok, dan Mas Eko, dan semua kawan-kawan di Trans 7 yang terlibat, atas kesempatan yang tidak ternilai harganya ini. Semoga bisa bekerja sama lagi dilain kesempatan.

Nusa Tawa mungkin masih sangat banyak kekurangannya. Eh, bukan mungkin sih, tapi memang demikian adanya, makanya tidak lagi dilanjutkan, hihihi. Tetapi saya pribadi sangat bangga dan bahagia pernah menjadi bagian dari program ini. Terutama karena bisa bermain dengan Putri Nere, Chun Funky Papua, Billy Beatbox, dan Ronny Lau (tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat dengan pemain yang lain). Karena kami berasal dari tempat yang sama, belahan Indonesia Timur. Dan bisa sejenak memperkenalkan cara kami bersikap, berbahasa, dan bercanda adalah suatu kesempatan yang masih sangat jarang. Ini adalah hal yang besar maknanya buat saya.

Nusa Tawa mungkin akan berakhir, tapi semangat kami untuk selalu hadir memperkenalkan jati diri generasi muda dari Indonesia Timur, tidak akan berhenti sampai disini. Karena Torang Juga Bisa.

Salam hangat, mamayo, yoksna, yombeks, kamu semua andalan. 

Danke.... 




Selasa, 20 Januari 2015

SENYUMAN YANG BERHARGA

Kapan terakhir kali, kita bahagia melihat orang lain tersenyum?

Ingat-ingat sekali lagi, kapan terakhir kali kita bahagia melihat orang lain tersenyum?
Siapa pun itu. Entah kekasih, orang tua, saudara, keluarga jauh, teman, seseorang yang kita jumpai dijalan, kapan terakhir melihat seseorang tersenyum?
Kemudian apakah kita turut bahagia melihat senyum mereka?
Yang terpenting, apakah kita pelaku yang mampu menghadirkan senyuman tersebut?

Yang saya maksudkan disini adalah senyum kebahagiaan yang kita lihat dari seseorang.
Bukan senyum terpaksa karena harus menjaga kelakuan agar dianggap baik
atau senyum untuk menyembunyikan rahasia licik seperti di sinetron. Tidak, bukan itu.
Melainkan senyum kebahagiaan yang tulus tanpa kepura-puraan.
Kita bisa merasakannya. Yaitu ketika kita juga merasa bahagia melihat senyuman itu hadir.

Saya pernah mengalami kesedihan. Pernah juga melihat kesedihan orang lain.
Dan sangat sulit untuk tersenyum ketika perasaan buruk menghampiri.
Pada saat seperti itu, sebuah senyuman bisa begitu berharga untuk mengobati perasaan duka.
Sederhana mungkin, tetapi menghadirkan satu senyuman saja bisa menurunkan tekanan pada batin yang sedang didera kesedihan.

Lalu bagaimana menghadirkan senyuman itu?

Saya percaya bahwa senyum yang tulus hanya bisa lahir dari kebaikan hati juga.
Ketika kita memberi penghiburan dengan keikhlasan dan kejujuran.
Dan begitu menyenangkan jika mampu melihat sedikit senyum terlintas dari seseorang yang sedang dihimpit kesulitan.
Kita mungkin tidak bisa membantu semua permasalahan orang lain, tetapi mungkin kita bisa berusaha menghadirkan senyum dalam kehidupan mereka.

Jika tersenyum saja adalah ibadah, maka terlebih lagi dengan upaya untuk menghadirkan senyuman bagi orang lain.

Saya selalu lebih bahagia, jika melihat orang tersenyum untuk saya.
Dan mungkin semua orang juga merasakan hal yang serupa.
Karena kita merasa bahagia melihat orang lain tersenyum, maka kenapa kita tidak berupaya menghadirkan senyum kebahagiaan bagi orang disekitar kita.
Kita merasa bahagia melihat senyum mereka hadir, maka kitalah yang sebenarnya sedang beruntung bisa melihat kebahagiaan itu.

Saya tidak tahu kesedihan apa yang akan menimpa kita.
Saya juga tidak tahu apakah bisa tetap tersenyum ketika kedukaan menghampiri.
Saya juga tidak tahu akankah bisa menjadi penghibur jika kemalangan itu tiba.
Namun yang berani saya janjikan, adalah jika menghadirkan senyuman itu bisa mengobati perasaan sedihmu, maka itulah yang akan saya usahakan sepenuh hati.
Percayalah, senyuman dari setiap orang itu adalah perkara yang berharga.

Senyuman yang berharga, semoga kita lebih sering berjumpa.

NB :
Mungkin tulisan ini bahkan tidak bisa menghadirkan senyuman
Karena tidak lucu, dan saya tahu itu. Maafkan ya.
Itulah kenapa senyuman itu berharga.
Karena untuk menghadirkannya, tidak semudah membalik telapak tangan.
Apalagi yang dibalik adalah telapak tangan Gorila Dewasa Liar.


Kamis, 08 Januari 2015

- MENYEPILAH -

Dimana kita mengenali diri kita yang sebenarnya?
Didalam selubung kesendirian

Suara-suara bising mengalihkanmu 
Membuatmu bahagia atau bersedih
Menutupi jejak panggilan jiwamu

Maka tersesatlah kita, 
dari diri kita yang sesungguhnya
Terpenjara dalam hingar bingar semua orang

Menyepilah sejenak
Menjauhlah sesaat dari kerumunan
Telusuri lagi relung-relung jiwa
yang mungkin terlupakan

Semua pertarungan kita dengan waktu 
tidak terjawab oleh uban yang memutih
melainkan mata yang menerawang

Biarkanlah dia mengembara hingga jauh
Ragamu menghadapi dunia
Biarkan ia yang lelah, tetapi bukan dia

Hingga keduanya sampai 
pada suatu masa penantian 
Berharaplah ia dan dia, 
masih berjalan beriringan

Lalu sambutlah damai
Sambutlah damai