Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Mei 2012

JOMBLO ITU LEBIH MERDEKA


Terkadang ada yang bertanya dengan nada menghina kepada orang yang memilih untuk masih sendiri,...
"Kamu masih Jomblo Yah...???" acapkali kita temui, seakan menghakimi kesendirian seseorang,...
Dan saya pribadi juga sering kali merasakan langsung,...
Bagaimana perasaan saya...??? Kecewa kah...??? Sedih kah..??? Marah kah...???
Sejujurnya perasaan saya biasa saja jika dihadapkan dengan pertanyaan demikian....
Saya cenderung lebih tertarik mengintip motivasi seseorang ketika menanyakan pertanyaan tersebut.

Menurut saya ada beberapa hal yang mendasari hadirnya pertanyaan tersebut, bergantung pada siapa dan bagaimana keadaan hubungan percintaan yang sedang dijalaninya.

Misalnya jika yang bertanya itu adalah orang yang anda ketahui sebenarnya ia juga Jomblo,... Maka percayalah, orang ini sebenarnya sedang mencari sekutu yang senasib dengannya, sehingga dapat menjadi penyejuk atau pembenaran bagi kesendiriannya.
Atau jika yang bertanya adalah lawan jenis yang juga Jomblo, maka kemungkinanan besar (belum pasti juga, jangan ke-GeeR-an dulu) dia sebenarnya mencoba membangun komunikasi dengan anda untuk mencari tau apakah bisa nyambung untuk kemudian sama-sama mengakhiri masa Jomblo.
Tapi jika yang bertanya adalah orang yang sudah memiliki pasangan,.... maka berbanggalah,...(^__^)

Karena percaya deh, sebahagia apapun hubungan yang mereka jalani, pasti ada sedikit kerinduan didalam benak mereka akan indahnya masa-masa penantian dalam kesendirian itu.
Jadi kalau ada pertanyaan "Kamu masih Jomblo yah..??!!" Itu sebenarnya terselip didalamnya pertanyaan "Kamu masih Merdeka yah..???!!"
Karena bagaimanapun juga, Komitmen dengan seseorang secara tidak langsung membuat anda memberikan sebagian kebebasan anda sebagai kompensasi untuk ikatan emosi tersebut. Dan ini bersifat sukarela, ketika kita memilih untuk menyayangi seseorang, memutuskan untuk membangun hubungan asmara, maka disaat yang sama anda akan menerima konsekuensi tersebut, yaitu menjadi tidak sebebas sebelumnya.

Jadi selama anda masih Jomblo, maka nikmati saja. meskipun memang terkadang kita dihampiri oleh perasaan kesepian, anggaplah itu sebagai kompensasi untuk perasaan bebas. Karena Insya Allah, anda tidak akan selamanya sendiri....
Suatu saat Jantung anda akan berdetak kencang ketika memandang senyum seseorang, lalu pedih akan mendera ketika berpisah dengan senyuman itu, sehingga anda akan takluk pada pesona nya dan merelakan Kemerdekaan anda terenggut untuk mendapatkan senyuman itu selama sisa hidup anda.
Saat itu sudah terjadi (anda telah memiliki tambatan hati), lantas anda bertemu dengan seseorang yang Jomblo,... ingatkan diri anda, bahwa meskipun kesepian, ia sebenarnya memiliki kemerdekaan yang lebih mutlak dibandingkan kemerdekaan yang anda miliki,...

Jomblo itu juga bisa berarti Merdeka, bergantung sudut pandang

Jumat, 27 Januari 2012

GOOD BYE, DANCING QUEEN

26 Januari 2011,... Sore ini kabar duka menghampiri. Nenek, ibu dari ayahku, menghembukan nafas terakhirnya. Meninggalkan kami selama-lamanya. Semoga amal ibadahnya di terima Allah SWT.
Tidak banyak memori yang bisa ku ingat dari sekian tahun bersamanya. Nenek bahkan sangat jarang bisa mengingat siapa aku sebenarnya. Maklum saja, beliau mengalami pukulan yang begitu besar sejak kehilangan anaknya dalam waktu yang hampir bersamaan. Dari cerita yang ku dengar, ayahku memiliki dua saudara laki-laki dan dua saudari perempuan. Tetapi ke empatnya meninggal, hingga menyisakan ayahku saja. Sejak itu nenek mengalami depresi yang dahsyat, ayahku yang saat itu masih balita juga kabarnya sempat ditelantarkan, karena nenek begitu meratapi kehilangan anaknya. Putra Sulungnya bahkan meninggal  tepat di hari pernikahannya. Hal inilah yang memberikan tekanan jiwa yang mendalam bagi Nenek. Depresi berat itu pun tidak pernah lagi pulih seutuhnya. Nenek tidak pernah lagi bangkit dari kenangan sedihnya selama bertahun-tahun selanjutnya.
Dari kisah-kisah yang pernah ku dengar, Nenek dahulunya adalah seorang Kembang Desa. Beliau adalah seorang penari. Pada masa itu, tarian masih merupakan sesuatu yang mistis dan dibawakan dalam upacara-upacara adat tertentu. Namanya adalah "Pande Sajo". Berbeda dengan penari jaman sekarang, yang banyak membentuk Girlband dan semakin jauh dari kebudayaan dan kepribadian bangsa. Menurut para tetua desa ketika pada suatu saat datang mengunjunginya, nenek sangat mahir dan menguasai beberapa jenis tarian. Beliau juga sempat menjadi guru tari sebelum musibah kematian putra-putrinya  itu terjadi. Bahkan dimasa tuanya, Nenek juga kerap mempraktekan kemampuannya. Jari-jarinya lentik dan gerakannya anggun. Jari-jari lentik itu bahkan menurun kepadaku. Menjadi aneh memang, seorang laki-laki dengan jari-jari yang lentik. Tapi biarlah, menyenangkan bisa mewarisi sesuatu dari beliau, dan lagi pula aku bukan penari, setidaknya sampai saat ini. Meskipun demikian, setiap melihat jariku sendiri, aku selalu teringat pada Beliau. (*Hening Sejenak)
Setelah kejadian meninggalnya anak-anak beliau, saudara-saudari ayahku, semua berjalan sulit. Nenek yang tidak lagi mampu melakukan kegiatan secara normal kemudian harus selalu diasuh dan dijaga oleh Mendiang Kakekku (semoga beliau juga mendapat tempat yang indah bersama-sama). Kakek secara de facto menjadi single parents. Bahkan harus mengurusi ayahku yang masih balita dan Nenek yang mengalami tekanan jiwa.
Aku mengenang Nenek sebagai sosok yang pemarah. Entahlah, beliau selalu saja berteriak-teriak jika menginginkan sesuatu. Aku sebenarnya takut berada didekatnya. Saat pertama kali tinggal bersama kami, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Nenek selalu saja memarahi Ayah. Nenek hanya terlihat bahagia jika Lebaran Idul Fitri tiba. Beliau akan mengenakan pakaian terbaiknya, juga selendang, dan menarikan beberapa tarian. Saat itu nenek akan bercerita tentang masa lalunya, lebih banyak mengenai anak sulungnya, yang menurut beliau masih hidup dan menantikan pernikahannya.
Setelah saya melanjutkan studi di Malang, menemui Nenek pada saat pulang mudik menjadi sesuatu yang benar-benar menyenangkan. Setelah beranjak dewasa, nenek justru mengira saya adalah anak sulungnya, mungkin wajah saya mirip. Beliau selalu memanggil saya dengan nama anak sulungnya, dan entahlah, meskipun aneh tetapi itu justru menyenangkan buatku. Seperti menjadi seseorang yang berharga buat beliau. Demikian pula ketika berpamitan untuk kembali ke Malang, selalu saja ku minta untuk menantiku hingga Lebaran berikutnya. Sekedar untuk sungkem dan meminta maaf. Dan lebaran yang lalu, aku mengingkari janji itu. Beberapa pekerjaan membuatku tidak bisa mudik kembali ke Sulawesi. Dan sepertinya nenek memutuskan untuk tidak menungguku lagi. (*Hening Lagi)
Penyesalan mungkin ada, namun moment itu tidak akan mungkin kembali lagi. Tapi keikhlasan adalah bagian dari do'a kita untuk melapangkan jalan mereka. Kematian pasti akan menghampiri kita semua. Biarlah do'a-do'a kami yang menemani perjalanan itu. Sampai jumpa di Hari Kebangkitan. Jari lentik ini akan selalu menjadi pengingatku. Goodbye Dancing Queen, Selamat Beristirahat. Semoga di terima disisi Sang Pencipta. Innalillahi wa Innailaihi Roji'un. ***


In Memories


Sitti Sapiah,... Safiyyah,... Sofia,... Love,...Cinta,....
Our Beloved Grand Ma,......



Rabu, 21 September 2011

CUCI OTAK

Hari ini aku lelah sekali, lelah jiwa dan raga. Hidupku seperti berputar-putar dalam suatu sirkuit maze yang buram, tidak jelas lagi dimana ujung pangkalnya, dan aku tersesat. Pusaran tanggung jawab yang menghimpitku,  bergotong royong mendera, meminta perhatian pada saat yang bersamaan. Dan pertanyaan itu kembali lagi menghampiri, "sebenarnya untuk apa semua ini...???"

Didalam benak ini semua tumpang tindih, kusut dan bergejolak. Ibarat gunung berapi. hanya menunggu detik-detik terakhir saja untuk memuntahkan lava pijar dan membakar semuanya. Aku ingin sekali membakar semuanya. Meluluh lantakkan, merobek, membuang, memecahkan, meninju, memporak-porandakan semua yang menggelayut dalam pikiran ini. Seandainya saja aku orang yang tidak mensyukuri karunia Allah SWT yang diamanatkan padaku, mungkin semuanya akan sederhana saja, seperti menggusur para pedagang kaki lima di Taman Kota
.
Tadi di Warung Kopi, temanku bilang aku ini seniman. Katanya lagi, aku ini rumit dalam berpikir. Temanku yang lain bilang, aku ini tipe orang yang menyukai hiperbola. Ada lagi yang bilang, aku ini melankolis. Satunya lagi bilang aku perfeksionis. Tapi mereka semua lantas sepakat memberi label "Keras Kepala" padaku. Saya sepenuhnya tidak menerima anggapan mereka ini, membantah habis-habisan, menolak gagasan mereka, yang menganggapku sebagai sosok arogan dengan berbagai sanggahan.

Mengapa saya mati-matian menolak anggapan itu...???
Yah..., karena saya ini Keras Kepala.

Teman-temanku di warung kopi ini, telah mengenalku hampir sewindu terakhir. Sudah tentu sedikit banyak paham karakter pribadi saya. Dan saya pun menyadari sepenuhnya kalau merekalah tempat saya harus bercermin. Pribadi buruk ataupun baik yang mereka sajikan sebagai cerminan kepribadianku, itulah refleksi diri yang harus saya terima. Jangan karena buruk rupa, cermin dibelah.

Akhirnya saya pun memahami lagi, bahwa mendengarkan perkataan orang lain tentang diri kita itu bukan berarti menunjukkan kepribadian kita yang lemah atau mudah dipengaruhi. Melainkan dapat menjadi refleksi diri kita saat ini sebagai bahan pemikiran, mungkin saja ada sesuatu yang harus dibenahi dari diri kita. Lalu kita sendiri juga yang memutuskan, apakah itu benar atau hanya cara pandang sepihak dari orang disekitar kita. Kita memutuskannya melalui proses perenungan pribadi. Ini point utamanya.

Dan bagaimana dengan pusaran tanggung jawab yang menghimpitku..???
Yang menanti saat semuanya diledakkan menjadi serpihan yang porak poranda....
Setelah cuci otak di warung kopi ini,... Saya rasa,... saya masih bisa bertahan....

BE POSITIVE, BE REAL, KEEP FIGHT, NEVER SURRENDER
 
----------------
Terima Kasih Telah Membaca

Selasa, 02 Agustus 2011

DAN JARAK DIANTARA KITA

Adalah lautan luas yang membentang
Melalui gelombang dengan buih putih
Takkan kau dengar aku berdendang
Nyanyikan rasa rindu yang begitu perih

Aku bahkan begitu jauh dari tepi pantai
Merindukan aroma laut dan deburan ombak
Lalu bagaimanakah asa itu kan ku gapai
Semakin kupikirkan semakin rindu ini sesak

Perahu berlayar tanpa pelita
Terhempas badai karam saat pagi
Dan jarak diantara kita
Lama baru akan pergi

Minggu, 29 Mei 2011

BIKINI BOTTOM....????

Genius, adalah kata yang kemudian terlintas dibenakku setelah bertahun-tahun dibuat tertawa lepas oleh aksi tokoh-tokoh kartun rekaan Stephen Hillenburg ini, Spongebob SquarePants. Melalui berbagai karakter yang disematkan dalam setiap tokoh kartunnya, Stephen Hillenburg mampu memberikan warna yang berbeda termasuk dalam metode penyampaian pesan.

Apakah anda tergelak dan tertawa lepas ketika menonton tayang Spongebob ini...???

Apakah cukup sampai disitu saja...???

Baiklah mungkin sedikit tulisan saya yang dangkal ini bisa mewakili penilaian saya mengenai ketidak dangkalan sebuah cerita kartun. Bahwa film kartun acapkali bukan hanya sekedar lucu-lucuan atau menampilkan aksi heroik yang tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia dalam kehidupan nyata, bahkan oleh Stuntman terhebat sekalipun.

Kembali pada tokoh-tokoh kartun dalam serial Spongebob. Ada beberapa hal yang saya cermati sebagai pesan moril yang secara berkesinambungan coba disampaikan melalui cerita kartun ini. Saya anggap pembaca sekalian telah mengenal berbagai tokoh kartun yang ada dalam serial ini. Namun mungkin sedikit gambaran mengenai beberapa tokoh dalam serial kartun ini dapat menambah pemahaman anda mengenai tokoh-tokoh dalam serial kartun Spongebob.
  • Spongebob SquarePants : Tokoh utama, berupa busa berwarna kuning dengan celana kotak (sesuai namanya). Menurutku tokoh yang satu ini naif, namun sebenarnya ia adalah perwujudan seorang yang pekerja keras dan ikhlas dalam menjalankan setiap kewajibannya. Ia begitu berdedikasi, selalu berupaya memberikan yang terbaik meskipun tidak mendapat imbalan apapun.
  • Patrick Star : merupakan sahabat Spongebob, meskipun ia terkesan sangat pemalas (mendapatkan penghargaan sebagai #1 pengangguran paling lama se-Bikini Bottom), namun ia adalah sosok sahabat yang sangat setia kawan. 
  • Squidward Tentacles : Sosok oportunis, ambisius, materialistis, namun sifatnya ini telah membawanya menjadi tokoh yang senantiasa mengalami nasib sial (sampai saat ini saya masih belum bisa memutuskan mana yang lebih sial, apakah Squidward ini atau kah Tom dalam serial Tom & Jerry)
  • Sandy Cheeks : sahabat Spongebob yang merupakan seekor tupai, memiliki kemampuan penguasaan teknologi dan seni beladiri yang memadai. Taktis, praktis dan juga setia kawan, mampu menjadi solusi bagi setiap kekacauan yang timbul di Bikini Bottom.
  • Eugene H. Krabs : lebih dikenal dengan panggilan Tuan Krabs, pemilik Krusty Krab, sosok yang sangat materialistis, money oriented, pelit, medit, pokoknya apapun yang bisa digunakan untuk menghemat dan menghasilkan uang adalah menu favoritnya. Sulit untuk menentukan apakah ia tokoh protagonis atau antagonis, mungkin ia mewakili banyak orang disekitar kita yang telah terbius fenomena pasar global yang Money Oriented.
  • Sheldon J. Plankton : Akrab disapa plankton, merupakan tokoh Antagonis, berambisi merebut resep rahasia Kraby Patty dari Krusty Crab. Jahat...!!!!!
  • Dan banyak lagi tokoh-tokoh lainnya,................. (>_<)
Bikini Bottom, kota tempat tinggal Spongebob, cs

 Tetapi yang terpenting bukan sekedar tokoh yang direka tersebut, pesan morilnya justru lebih banyak disipkan dalam setting dan skenario yang ditampilkan. Beberapa yang dapat saya amati antara lain.
  • Dedikasi yang ditunjukkan oleh Spongebob dalam mengolah sajian KrabbyPatty.
  • Peringatan agar kita tidak begitu tergantung pada Teknologi Modern dan pesan agar kita lebih peduli pada lingkungan melalui setingan Chum Bucket yang diposisikan sebagai media dalam menyusun suatu rencana kejahatan Plankton dan Krusty Crab yang sederhana dengan arsitektur yang terbuat dari kayu dan berkesan tradisional, dimana didalamnya terdapat pengabdian dan suatu kecintaan terhadap profesi yang dijalankan (Spongebob)
  • Potret kehidupan pegawai dalam dunia modern yang disajikan melalui profil Squidward yang pasrah dengan keadaan, menjalani aktivitasnya dengan keterpaksaan tanpa ada pengabdian dan terperangkap dalam mimpinya untuk menjadi seorang musisi Saxophone (bukankah banyak diantara generasi kita sekarang ini yang memupuk mimpinya untuk menjadi seorang artis ketimbang menjalani sebuah profesi keahlian yang nyata)
  • Ilmu Pengetahuan yang dapat menembus batas-batas yang sulit untuk kita jangkau. Hal ini ditunjukkan melalui kepribadian Sandy, seekor tupai yang dapat hidup didalam laut.
  • Dan banyak lagi pesan-pesan moril yang dapat kita temui jika kita mencoba untuk menyimak sisi lain dari cerita kartun Spongebob SquarePants ini.
Tapi dari semua istilah dan penamaan dalam cerita kartun ini, saya sungguh terpana dengan pemilihan nama untuk Kota Kecil tempat semua kejadian konyol itu terjadi.  

o---------> BIKINI BOTTOM <---------o

Bahkan jika saya menyusun suatu cerita dan memerlukan nama untuk sebuah tempat yang ada dibawah permukaan laut, saya hampir pasti tidak akan memikirkan bikini bottom sebagai salah satu opsi nama tersebut. Mungkin saya akan menamakannya Underwater City, atau Sand and Water Village, atau Coral Camp, atau mungkin Kota Bahari, atau apa saja,.... Namun tidak BIKINI BOTTOM. Ada kesan seksi yang disampaikan dalam nama ini, namun nama ini juga erat kaitannya dengan kehidupan Pantai. Yaps,... Bikini, atribut yang hanya wajar dipakai di Pantai, (jika digunakan dikolam renang pun dapat memberikan kesan Naughty yang berlebihan) dicokot sebagai nama. What the hell he think about...??? Tentu saja membayangkan apa yang berada dibawah sebuah bikini (maaf..!!! bukan didalam..!!!) kita tidak akan langsung membayangkan sebuah kehidupan dibawah laut. Tetapi demikianlah kenyataannya jika Bikini tersebut menceburkan diri kedalam laut maka yang ada dibawahnya mungkin saja sebuah kehidupan bawah laut yang jauh berbeda dengan kehidupan diatas permukaan. Menurutku ini adalah sebuah pemilihan nama yang genius, tidak umum, dan sulit untuk dinalar.

Jadi mungkin saja kita harus mulai berpikir bahwa Kartun maupun Animasi bukan hanya sekedar hiburan murahan kekanak-kanakan, tetapi jika diolah sedemikian rupa dapat menjadi sebuah karya yang patut diapresiasi.

Masihkah anda akan berpikir bahwa Film Kartun itu Dangkal....???



    PS : Tulisan ini ku dedikasikan buat Sahabat Dunia Mayaku yang Sangat Menyukai Spongebob SquarePants, semoga berkenan (^_^) 




    Rabu, 30 Maret 2011

    Kopi Cinta

    Sang pemuda bertemu gadis pujaannya pada sebuah acara pernikahan.
    Ia melihatnya dan langsung jatuh hati hanya dengan melihat senyumnya.
    Jantungnya berdegup kencang, membisikkan kegelisahan tak tertahankan.
    Ia lantas memutuskan untuk  menghampiri si Gadis pujaan, 

    yang kebetulan adalah keluarga dari salah satu mempelai pada pernikahan itu.
    Sementara si  Gadis sibuk membagikan  hidangan untuk para tamu, 

    Si Pemuda meraih segelas kopi, dan perlahan mendekati Si Gadis Pujaan.

    Pemuda itu pun berkata tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya pada sang gadis “ Bolehkah saya meminta beberapa sendok Garam untuk Kopi saya ini..??”

    Si Gadis merasa heran, namun mengkuti permintaan Sang Pemuda begitu saja…..

    Pemuda tersebut kemudian menikmati Kopi yang telah bercampur Garam tersebut dengan wajar, juga memuji takaran garam dalam Kopi tersebut, dan mereka pun saling berkenalan….

    Singkat cerita, mereka lantas saling jatuh hati dan memutuskan untuk menikah…..

    Setiap pagi, Istrinya membuatkan sarapan dan Segelas Kopi yang dicampurkan beberapa sendok Garam. Lalu mereka sarapan bersama dan Sang Suami selalu saja memuji  betapa nikmatnya Kopi Asin buatan Istrinya.

    Demikian pula saat malam, sembari menikmati acara televisi, Sang Istri menyiapkan camilan dan Kopi Asin untuk suaminya. Dengan senyum yang penuh kasih suaminya menikmati Kopi tersebut.

    Begitulah selama lebih dari 10 Tahun bersama, hingga suatu saat sang Suami mengalami kecelakaan dan terbaring dalam kondisi kritis. Ia kemudian meminta untuk berbicara dengan istrinya.
    Maka mendekatlah sang Istri, wajahnya jelas merana menanti apa yang akan disampaikan suami terkasihnya.

    Sang Suami memulai menyampaikan dengan suara yang berat “Aku telah berjanji pada diriku untuk tidak berdusta padamu sepanjang hidupku, maka ini adalah satu-satunya dusta yang saat ini dengan jujur ingin ku akui padamu. Sejujurnya, aku tidak pernah menyukai Kopi Asin buatanmu. Ketika dulu kita pertama kali bertemu, aku begitu gugup melihatmu, dan saat aku bermaksud meminta gula padamu, entah mengapa aku justru mengucapkan Garam begitu saja. Dan sejak saat itu aku selalu meminum Kopi Asin buatanmu. Tetapi aku tidak menemukan satu pun cara untuk menyampaikannya, setelah semua pujian yang terlanjur aku lontarkan. Maka jika detik ini aku harus berpulang kepada-Nya, aku ingin kau tahu mengapa aku selalu menghabiskan Kopi Asin buatanmu, dan memujimu disaat yang sama,… ketahuilah, bahwa rasa cintaku padamu telah membuat Kopi Asin tersebut, menjadi begitu manis melebihi madu terbaik dijagat raya ini….”

    Bertahun-tahun kemudian sejak kepergian suaminya, sang Istri pun selalu saja meminum Kopi Asin.
    Dan ketika seseorang bertanya bagaimana rasa Kopi tersebut, dengan tersenyum, ia menjawab, “Kopi ini begitu manis, melebihi madu terbaik dijagat raya ini…”



    *** SEKIAN ***


    Jadi, apakah anda berpikir bahwa kisah ini hanyalah dongeng semata…???
    Atau anda bermimpi untuk mewujudkan kisah itu dengan cara yang mungkin berbeda dalam hidup anda..???

    Cinta adalah Perasaan Terdalam, yang jika kita mampu menyelami hingga ke dasarnya, kita akan menemukan kebahagian yang tidak terbatas waktu….

    Sabtu, 12 Maret 2011

    The Perfect Love

    check it out,...
    JANGAN LUPA MEMBAWA HATI ANDA,.....



    how do you think...???

    Senin, 21 Februari 2011

    ORANG INDONESIA YANG PEMARAH

    Ketika kecil saya pernah percaya, bahwa orang Indonesia itu terkenal karena keramahannya. Dan saya bangga menemukan diri saya ternyata adalah orang Indonesia. Saya pun berusaha mendidik diri saya untuk menjadi orang Indonesia yang ramah itu. Menyapa orang lain dengan ramah, menghargai orang yang lebih tua, menjawab pertanyaan seseorang sembari tersenyum, melembutkan suara ketika bertutur kata, dan memilah ucapan ketika berdiskusi. Saya sangat berharap dapat menjadi representasi dari orang Indonesia yang ramah.

    Lantas saya menemukan diri saya saat ini. Dan mungkin juga anda akan menemukan diri anda sendiri diseberang sana. Menjadi sedikit berbeda dengan alur kisah diatas. Kita tentu saja tetap orang Indonesia. Setidaknya KTP dan Domisili saya senantiasa konsisten berlabel warga negara Indonesia. Tetapi dimana keramahan yang dulu saya cita-citakan menjadi identitas saya? Sejujurnya, belakangan ini saya menjadi sedikit pemarah. Entah bagaimana dengan anda, saya justru berharap anda akan sama halnya dengan saya, menjadi seorang yang marah.

    Biarkan saya mengingat sejenak, mengapa saya menjadi pemarah seperti saat ini. Mungkinkah karena melihat penegakan hukum yang tebang pilih dan sering kali di politisir? Mungkinkah karena melihat banyaknya rakyat miskin yang dirampas haknya dan tidak mendapat keadilan? Mungkinkah melihat gejolak PSSI yang mengkhianati aspirasi pencinta sepakbola seperti saya ini? Mungkinkah karena film Hollywood yang berkualitas itu akan sirna dari Bioskop Tanah Air? Mungkinkah karena kasus bernuansa SARA yang akhir-akhir ini semakin merebak? Mungkinkah karena biaya hidup yang semakin mencekik? Mungkinkah karena kasus Munir, Century, dan Gayus terpendam entah kemana? Mungkinkah karena idola saya justru bertindak Asusila? Entahlah, semua pertanyaan ini sangat mungkin membuat saya marah. Dan saya merasa kemarahan adalah bentuk emosi yang wajar untuk merespon kenyataan ini.

    Lalu saya menemukan kemungkinan yang paling memungkinkan menjadi penyebab kemarahan saya. Mungkin saya marah, karena saya terlalu mencintai Bangsa Indonesia ini? Mencintai karakteristik Bangsa Indonesia yang ramah, yang sejak kecil telah terpatri dalam benak saya. Mencintai begitu berharga menjadi anak Bangsa. Dan lantas menjadi ironi ketika berhadapan dengan potret Bangsa saat ini.

    Tetapi sejenak saya bertanya lagi. Apakah ingatan saya perihal karakter Bangsa Indonesia yang ramah itu benar adanya?

    Bukan tidak mungkin bahwa sejak dahulu tidak ada yang namanya Ramah dalam kepribadian Bangsa Indonesia itu. Mungkin sejatinya bukanlah Ramah, tetapi Marah. Bisa saja saya telah salah mengejakannya. Atau si penulis karater bangsa Indonesia itu yang salah mengetikkannya.

    Ramah atau Marah...??? Yang manakah karakter bangsa Indonesia sebenarnya?

    Sepertinya lebih banyak orang Indonesia yang Marah ketimbang yang Ramah.