Kemarin sempat memanas, kejadian Komika yang menuai protes dari seorang penyanyi karena dianggap mengeluarkan jokes yang merendahkan personilnya. Bagi saya ini adalah resiko yang bisa menimpa siapa saja yang memutuskan hadir di panggung komedi. Apakah sang penyanyi salah dan terlalu sensitif? Bagi saya tidak sama sekali. Adalah hak dia untuk merasa terganggu dengan apa yang terjadi di atas panggung. Apakah komediannya melakukan kesalahan? Bisa iya, bisa juga tidak. Karena roasting, adalah salah satu teknik yang dipelajari dalam komedi. Namun yang pasti, ketika sebuah konten komedi yang isinya bertujuan untuk menghibur, ternyata berbalik menjadi masalah untuk komediannya, menurut saya itu adalah bagian dari resiko yang harus diterima oleh komediannya. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan orang lain terlalu sensitif ketika kita melakukan roasting terhadap mereka dan mereka sakit hati. Bisa saja itu memang kekeliruan komika dalam menempatkan posisi.
Saya mau coba sotoy, mengulas sedikit saja, karena ini berkaitan dengan teknik dalam melakukan Stand Up Comedy. Berdasarkan pemahaman yang saya pahami dari mempelajari komedi melalui Reggy Hasibuan, Ernest Prakasa, Pandji, Raditya Dika, Adriano, Ge Pamungkas, dan banyak komika yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, ada beberapa hal yang penting untuk diingat ketika melibatkan orang lain dalam jokes yang kita sampaikan.
Dalam Stand Up Comedy, ada beberapa teknik yang digunakan saat kita melibatkan orang lain sebagai bagian dari materi kita. Diantaranya Riffing, Roasting, dan Ripping. Dalam pemahaman saya, Riffing, Roasting, dan Ripping ini berbeda tingkat intensitasnya ketika kita tujukan pada orang lain. Sehingga tidak setiap saat bisa digunakan.
Riffing, cenderung lebih aman dan halus. Kita melibatkan penonton atau lingkungan sekitar sebagai materi. Sedapat mungkin tidak begitu menyinggung perasaan mereka atau yang berkenaan dengan obyek yang kita riffing (meskipun untuk kebutuhan komedi memang unsur menjatuhkannya tidak dapat kita hindari). Riffing, benar-benar ditujukan untuk kepentingan hiburan semata. Resikonya cenderung kecil dibandingkan roasting dan ripping. Meskipun demikian, penting bagi komika untuk memahami resiko yang mungkin hadir ketika melontarkan jokes menggunakan riffing ini. Persetujuan obyek yang dijadikan materi riffing tidak begitu dibutuhkan, dengan pertimbangan bahwa komikanya harus cukup sensitif untuk menimbang materi yang dia lontarkan tidak akan menimbulkan masalah yang berarti. Just for fun.
Roasting, intensitasnya lebih tinggi dibandingkan riffing. Materi yang disampaikan memang menjadikan kelemahan obyek roasting sebagai bahan bakunya. Semakin menjatuhkan biasanya semakin lucu. Bisa juga memunculkan fakta-fakta tentang obyek tersebut lalu dibenturkan dengan kondisi yang kontradiktif sehingga bisa menimbulkan jokes. Bagi saya, ketika melakukan roasting ini, kita harus mempertimbangkan dua hal. Yang pertama, persetujuan dari obyek yang akan kita roasting. Ini penting, sebab ketika komika dan obyek roasting sudah sepaham, maka obyek roasting ini sudah tahu resiko apa yang akan dia hadapi sehingga kemungkinan muncul protes dari obyek roasting dapat diminimalisir. Yang kedua, sensitifitas komika dalam mengukur materi roasting yang dia lontarkan akan diterima sebagai sesuatu yang lucu bagi penonton, bukan sekedar cercaan. Jika cara menjatuhkan yang dilakukan komika terhadap obyek roastingnya berlebihan, kemungkinan penonton malah akan merasa kasihan pada obyek roasting yang akhirnya menyebabkan mereka tidak menertawakan jokes yang dilontarkan.
Ripping, adalah bentuk yang paling kasar dari komedi yang berhubungan dengan interaksi dengan orang lain. Unsur komedi menjadi pertimbangan terakhir, yang diutamakan adalah menjatuhkan sasaran ripping ini. Sangat jarang komika sampai harus melakukan ripping ini. Biasanya ini dilakukan jika ada orang yang menganggu jalannya pertunjukan dan kehadirannya membuat tidak nyaman bagi semua penonton yang ada. Biasanya menjatuhkan orang yang mengganggu ini, justru akan menghadirkan tawa dari penonton lainnya. Yang harus dipastikan adalah, penonton lain merasa terganggu dengan kehadiran dia sehingga perlu bagi komika melakukan ripping. Lagi-lagi komika dituntut untuk lebih sensitif menanggapi situasi yang terjadi. Tawa penonton yang hadir ketika kita melakukan ripping, menunjukkan persetujuan penonton terhadap apa yang kita lakukan.
Semua ini kembali lagi kepada sensitifitas komika itu sendiri. Meskipun demikian, sebagai komika kita mungkin suatu saat akan mengalami keseleo lidah yang menyebabkan orang lain tersinggung atas materi komedi yang kita tawarkan. Karena itu, komika sebaiknya cermat menempatkan posisi. Ketersinggungan orang lain, mungkin salah satu resiko pekerjaan yang wajib kita waspadai, selain tentu saja materi yang kurang lucu.
Itu saja seh yang bisa saya tuliskan dalam kesempatan ini
Semoga tidak ada gunanya sama sekali buat kalian yang membaca.
Semoga membaca tulisan ini, hanya menghabiskan waktu kalian.
Karena saya juga sudah membuang-buang waktu untuk menulis ini semua.
VIVA LA KOMTUNG..!!! LETS MAKE LAUGH..!!! SALAM SATU TAWA..!!!
Tampilkan postingan dengan label StandUpComedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label StandUpComedy. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Juni 2015
Kamis, 21 Mei 2015
STAND UP COMEDY HARUS MEMASYARAKAT
Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan beberapa kawan yang sudah lebih dulu berkecimpung dalam dunia entertainment dan menanyakan perihal Stand Up Comedy. Mereka sebenarnya punya ketertarikan untuk mencoba melakukan Stand Up Comedy, tetapi kuatir karena mendengarkan label "Smart Comedy", yang disematkan pada Stand Up Comedy. Mereka beranggapan bahwa mereka harus mendalami tekniknya dulu baru bisa melakukan Stand Up Comedy. Menurut saya tidak mesti demikian. Dan saya rasa ada yang sedikit keliru mengenai image Stand Up Comedy diluar sana. Sebagai suatu aliran seni, saya melihat Stand Up Comedy semakin ekslusif bukannya malah memasyarakat.
Jadi kalau menurut saya sih, siapapun boleh, bisa, dan berhak melakukan Stand Up Comedy. Tidak harus memiliki label komedian atau anggota komunitas Stand Up Comedy. Perkara lucu atau tidak lucu, itu belakangan. Jika ada suatu hal yang ingin diceritakan dan ingin dikemas menyenangkan untuk didengarkan, maka Stand Up Comedy adalah kemasan yang sesuai. Bagi saya, hal yang utama dalam melakukan Stand Up Comedy, adalah naik keatas panggung lalu menceritakan sesuatu. Itu dulu. Lucu, ya sebaiknya memang lucu. Sesuai dengan teknik dasar Stand Up Comedy? ya gak harus juga.
Karena bagi saya Stand Up Comedy itu sepenuhnya adalah Seni.
Seni, sama halnya seperti tarik suara. Hampir semua dari kita, pernah menyanyikan lagu di muka umum. Minimal pada saat Taman Kanak-kanak atau pelajaran kesenian. Yang kita lakukan adalah maju kedepan, dan mendendangkan sebuah lagu. Merdu? Belum tentu. Tetapi kita tetap bernyanyi. Dalam seni tarik suara, juga ada banyak teknik yang harus dikuasai. Tapi apa kita harus menguasai segala teknik itu sebelum bernyanyi. Ya gak juga. Kecuali, kita mau menjadi penyanyi profesional.
Stand Up Comedy pun demikian halnya. Dalam Stand Up Comedy juga banyak teknik yang harus dipelajari. Baik penulisan Materi maupun Delivery. Tapi apa kita harus menguasai teknik itu sebelum melakukan Stand Up Comedy? Ya gak juga. Kecuali, kalau kita tertarik menjadi komedian profesional.
Ketika saya pertama kali melakukan Stand Up Comedy, saya tidak mengetahui apapun mengenai teknik Stand Up Comedy, baik penulisan materi maupun delivery. Tetapi saya coba saja. Naik keatas panggung dan menceritakan hal-hal yang pikirkan. Lucu? Ya Alhamdulilah berhasil. Cukup menghibur pada saat itu. Ya mungkin karena pada dasarnya saya Genius #OkeLupakan. Maksud saya, Stand Up Comedy itu pada dasarnya adalah seni pertunjukkan. Seperti halnya bernyanyi, menari, melukis, puisi, atau drama. Siapa pun yang tertarik untuk melakukannya ya silahkan.
Ketika saya pertama kali melakukan Stand Up Comedy, saya tidak mengetahui apapun mengenai teknik Stand Up Comedy, baik penulisan materi maupun delivery. Tetapi saya coba saja. Naik keatas panggung dan menceritakan hal-hal yang pikirkan. Lucu? Ya Alhamdulilah berhasil. Cukup menghibur pada saat itu. Ya mungkin karena pada dasarnya saya Genius #OkeLupakan. Maksud saya, Stand Up Comedy itu pada dasarnya adalah seni pertunjukkan. Seperti halnya bernyanyi, menari, melukis, puisi, atau drama. Siapa pun yang tertarik untuk melakukannya ya silahkan.
Tidak harus menjadi penyanyi untuk bernyanyi
Tidak harus menjadi komedian untuk melakukan Stand Up Comedy
Saya percaya, setiap kita punya pemikiran atau pengalaman yang ingin diceritakan.
Stand Up Comedy adalah salah satu pilihan ruang untuk mengekspresikan itu. Mungkin akan lebih mudah jika kita tahu dimana letak kelucuannya. Sehingga ketika bercerita diatas panggung, kita tahu apa yang akan kita sampaikan. Mungkin menuliskannya terlebih dahulu akan lebih memudahkan kita. Tetapi yang terutama adalah kita harus melihat panggung itu sebagai tempat untuk berbagi kisah.
Jadi siapapun anda di luar sana, pejabat, artis, dosen, pelajar yang lagi jerawatan, mahasiswa semester akhir, ibu rumah tangga, pacar yang baik, jomblo yang merana, pengangguran yang tabah, siapapun anda, jika mempunyai sesuatu yang ingin anda ceritakan, jangan ragu untuk mencoba panggung Stand Up Comedy. Lucu dan teknik belakangan. Berbagi cerita itu menyenangkan dan melegakan.
Jika anda penasaran ingin melakukan Stand Up Comedy, datangi saja Cafe atau Komunitas Stand Up Comedy yang menyelenggarakan Open Mic yang terdekat di Kota anda. Open Mic pada hakikatnya adalah event yang terbuka untuk siapa saja yang ingin mecoba melakukan Stand Up Comedy, siapapun yang bersedia.
Mari berbagi cerita dan mari bersenang-senang.
Mari berbagi cerita dan mari bersenang-senang.
Viva La Komtung
NB :
Tapi kalau garing sebenarnya memang sedikit memalukan seh, tapi gak apa-apa, kadang disitulah letak kelucuannya. Seperti halnya kalau nyanyi terus fals, ya disitulah letak kelucuannya. :D
Tapi kalau garing sebenarnya memang sedikit memalukan seh, tapi gak apa-apa, kadang disitulah letak kelucuannya. Seperti halnya kalau nyanyi terus fals, ya disitulah letak kelucuannya. :D
Rabu, 14 Maret 2012
OUR FIRST "STAND UP NITE"
Sebelas Maret kemarin menjadi hari yang bersejarah. Bukan saja bertepatan dengan peringatan Supersemar, tetapi karena pada hari itu, Stand Up Nite untuk pertama kalinya dihelat di Kota Malang. Adalah komunitas Stand Up Indo Malang yang menjadi penggagas event ini. Dengan dukungan berbagai pihak, event ini pun dapat terselenggara dengan lancar.
Lebih dari tiga ratus lima puluh audience pencinta Stand up Comedy memenuhi ruangan seminar Gedung PPI Universitas Merdeka Malang. Menampilkan sepuluh orang Comic Lokal Malang dan dua Guest Star dari Stand Up Comedy Indo, event ini sukses menampilkan hiburan alternatif yang luar biasa meriah.
Acara dibuka tepat pukul 19.00 WIB dengan lantunan lagu dari duo akustik Knee And Toes sementara kesepuluh Comic lokal menantikan saat-saat yang penuh ketegangan untuk menampilkan kemampuannya menyampaikan materi Komedi. Beberapa saat kemudian, MC Gading Aulia mengumumkan penampilan Comic yang pertama Fajar Ardiansyah dan aksinya berhasil memecah tawa di panggung Stand Up Nite. Dilanjutkan dengan penampilan Fajri Arma Erik S yang juga merupakan mahasiswa Universitas Merdeka. Alhasil suasana dalam ruang pertunjukan kembali dipenuhi gemuruh tawa. It's Awesome...!!!
Dan kemudian tibalah giliran saya berdiri diatas panggung Stand Up Nite, 350 lebih audience membuat perut melilit dipenuhi perasaan Nervous. Saatnya melakukan yang terbaik. Mengeksplorasi materi komedi yang telah dipersiapkan sejak beberapa hari. Alhamdulillah, pertunjukkan berhasil. Tidak ada materi yang terlewat meskipun waktu 10 menit terasa begitu cepat berlalu. Tawa penonton yang terus bergemuruh memacu adrenaline untuk memberikan pertunjukkan yang terbaik. Audience yang sangat luar biasa.
Malam kian larut tetapi pertunjukan belum berakhir. Selanjutnya Yoel Yaspier dan Firstyo membawa tawa yang meriah didalam ruangan pertunjukkan. Setelah diselingi oleh dua lantunan lagu dari Knee And Toes, pertunjukkan Stand Up Nite kembali dihelat. Berturut-turut Wawan Saktiawan, Tyok Setyo, Yuda Wicaksono, Yuli Queen, dan Bayu Sidharta menghadirkan gelak tawa. Suasana terus memanas tetapi animo Audiens tidak juga surut. Sesi kedua ditutup dengan Launching StandUpIndo_MLG oleh Guk Sueb sang Admin dan sekaligus co-founder.
Dan tibalah penampilan Guest Star, yang merupakan moment puncak pertunjukan Stand Up Nite. Tepuk tangan riuh mengiri penampilan Reggy Hasibuan sang Guest Star kita yang pertama. Materi Komedi dalam bahasa Indonesia menjadi pembuka penampilannya. Tawa semakin pecah ketika materi dalam Bahasa Inggris dieksplorasi diatas panggung pertunjukkannya. Cara presentasi yang sederhana dan ditunjang dengan Act out yang memukau, sukses membuat penonton tidak kuasa menahan gelak tawa..., Sempurna..!!! Lalu Ernest Prakasa Guest Star Stand Up Nite kita selanjutnya. Tiga besar dalam salah satu Kompetisi Stand Up Comedy Indonesia ini sukses memukau para audiens. Derai tawa seperti enggan mereda memenuhi seluruh ruangan. Keseluruhan rangkaian pertunjukkan Stand Up Nite ini pada akhirnya mencapai klimaksnya. Ketika segenap pengisi acara, Duo Akustik Knee And Toes, MC Gading Aulia, Kesepuluh Comic pembuka, dan Guest Star menghaturkan penghormatan kepada audiens, gegap gempita standing applause menggemuruh dalam ruang pertunjukkan.
Stand Up Nite pertama telah sukses digelar. Euforia nya masih terasa hingga beberapa waktu. Bahagia bisa terlibat dalam event menakjubkan seperti ini. Terima kasih untuk segenap pendukung acara, untuk panitia pelaksana dari Stand Up Indo Malang yang telah bekerja keras, spesial untuk Daniel Aryz yang telah banyak memberikan kontribusi, kerjasama yang luar biasa dari saudara Ketua BEMU Ian Irianto dan teman-teman BEM Universitas Merdeka Malang, juga sahabat-sahabat Stand Up On Campus dan Stand up UMM, berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, dan tentu saja para Audiens pencinta Stand Up Comedy Malang dengan apresiasinya yang luar biasa. Semoga kami dapat kembali memberikan persembahan terbaik kami.
Stand Up Nite pertama telah sukses digelar. Euforia nya masih terasa hingga beberapa waktu. Bahagia bisa terlibat dalam event menakjubkan seperti ini. Terima kasih untuk segenap pendukung acara, untuk panitia pelaksana dari Stand Up Indo Malang yang telah bekerja keras, spesial untuk Daniel Aryz yang telah banyak memberikan kontribusi, kerjasama yang luar biasa dari saudara Ketua BEMU Ian Irianto dan teman-teman BEM Universitas Merdeka Malang, juga sahabat-sahabat Stand Up On Campus dan Stand up UMM, berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, dan tentu saja para Audiens pencinta Stand Up Comedy Malang dengan apresiasinya yang luar biasa. Semoga kami dapat kembali memberikan persembahan terbaik kami.
# SALAM SATU TAWA #
Jumat, 03 Februari 2012
BUKAN SEKEDAR MELUCU (Part 2)
Stand Up Comedy terus merebak dan menjadi trend di berbagai daerah. Untuk wilayah Pulau Jawa sendiri (termasuk Jabodetabek dan Bandung Raya; mereka ini secara geografis kadang merasa terpisah dengan Jawa,.. Absurd), hampir setiap Kota telah memiliki Komunitas Pencinta Stand Up Comedy. Demikian halnya di Luar Jawa Lhouksemawe, Samarinda, dan Makassar, juga telah memiliki Komunitas Pencinta Stand Up Comedy. Seiring dengan perkembangan itu, Comic-comic baru dengan berbagai karakter juga semakin banyak yang hadir meramaikan dunia Stand Up Comedy. Perkembangan ini tentu saja cukup baik, mengingat Stand Up Comedy tidak hanya menawarkan sisi kelucuan seperti yang ada pada bentuk Komedi Slapstick, melainkan lebih menekankan pada Pesan Sosial yang disamarkan dalam setiap Set Up Comedy yang disampaikan. Saya mengatakan perkembangan ini cukup baik, karena ini mengindikasikan meningkatnya perhatian dari generasi muda dalam menyikapi isu-isu sosial yang terjadi disekitarnya. Stand Up Comedy dapatlah dikatakan sebagai salah satu pemicunya. Begitu banyak materi-materi Stand Up Comedy yang hadir dari kemampuan imajinasi dan pemikiran dari comic-comic pemula, yang membicarakan betapa absurd-nya kondisi sosial politik di Negara ini. Tidak hanya comic, namun Audiens yang semakin dapat menertawakan dan mengapresiasi materi Stand Up Comedy ini, juga menunjukkan bahwa kondisi sosial yang semakin absurd ini pun telah kembali menjadi fokus masyarakat, setidaknya melalu Stand Up Comedy.
Bagaimana dengan Kawasan Indonesia Timur..???
Saya bukannya pesimis dengan perkembangan Stand Up Comedy di Indonesia Timur. Namun sebenarnya sudah sejak lama, jenis komedi ini telah hadir menjadi salah satu bentuk apresiasi Budaya dibelahan Indonesia Timur, terutama Papua. Disana, ada sejenis bentuk Komedi Tunggal yang disebut Cerita MOB (Menghibur Orang Banyak). Cerita MOB ini sendiri, juga disajikan seperti halnya Stand Up Comedy, yaitu ada seorang pelaku Cerita MOB yang bercerita kepada beberapa Audiens. Saking berkembangnya Cerita MOB ini, banyak skenario yang kemudian menjelma menjadi Street Jokes atau Kodian. Tetapi dapat saya katakan bahwa, diantara Cerita MOB ini tidak sedikit yang mengangkat isu-isu sosial terutama yang terjadi dalam keseharian masyarakat di Indonesia Timur. Demikian pula dengan teknik dasar yang dikenal dalam Stand Up Comedy, beberapa skenario dalam Cerita MOB ini juga secara tidak langsung telah menerapkan teknik-teknik dasar tersebut. Secara umum Cerita MOB juga terdiri atas Set-Up dan Punchline. Cerita MOB biasanya juga menggiring cara pandang audiens menuju suatu kesimpulan, sebelum membelokkan Premis tersebut menjadi sesuatu yang lucu. Bahkan beberapa Cerita MOB juga menggunakan aturan Rules of Three. Cerita MOB juga mengenal teknik Riffing dan Battle yang disebut Baku Sepak atau Baku Toki, dimana si pelaku Cerita MOB dapat memasukkan orang lain atau suku/daerah lain dalam skenario yang disusunnya. Namun yang menjadi pertimbangan adalah, Cerita MOB ini memang lebih lucu jika disampaikan dalam dialek Indonesia Timur. Beberapa cerita juga memiliki ikatan erat dengan kebiasaan dan tempat-tempat yang ada di Indonesia Timur. Sehingga memang cukup sulit untuk disajikan kepada audiens yang tidak begitu memahami Kondisi Sosial yang ada di Indonesia Timur. Dan sejujurnya, menurut saya pribadi, Cerita MOB ini memiliki kekhasan tersendiri yang sulit untuk tergeser oleh pesona Stand Up Comedy.Jika Stand Up Comedy memiliki Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono, maka Cerita MOB memiliki Mr. Chicko (video cerita MOB nya juga beredar melalui situs You Tube). Namun tentu saja Stand Up Comedy dan Cerita MOB dapat saling mengisi dalam memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat dengan tidak mengesampingkan pesan-pesan sosial yang terkandung didalamnya.
Berikut beberapa Cerita MOB yang mengandung teknik Stand Up Comedy :
Bagaimana dengan Kawasan Indonesia Timur..???
Saya bukannya pesimis dengan perkembangan Stand Up Comedy di Indonesia Timur. Namun sebenarnya sudah sejak lama, jenis komedi ini telah hadir menjadi salah satu bentuk apresiasi Budaya dibelahan Indonesia Timur, terutama Papua. Disana, ada sejenis bentuk Komedi Tunggal yang disebut Cerita MOB (Menghibur Orang Banyak). Cerita MOB ini sendiri, juga disajikan seperti halnya Stand Up Comedy, yaitu ada seorang pelaku Cerita MOB yang bercerita kepada beberapa Audiens. Saking berkembangnya Cerita MOB ini, banyak skenario yang kemudian menjelma menjadi Street Jokes atau Kodian. Tetapi dapat saya katakan bahwa, diantara Cerita MOB ini tidak sedikit yang mengangkat isu-isu sosial terutama yang terjadi dalam keseharian masyarakat di Indonesia Timur. Demikian pula dengan teknik dasar yang dikenal dalam Stand Up Comedy, beberapa skenario dalam Cerita MOB ini juga secara tidak langsung telah menerapkan teknik-teknik dasar tersebut. Secara umum Cerita MOB juga terdiri atas Set-Up dan Punchline. Cerita MOB biasanya juga menggiring cara pandang audiens menuju suatu kesimpulan, sebelum membelokkan Premis tersebut menjadi sesuatu yang lucu. Bahkan beberapa Cerita MOB juga menggunakan aturan Rules of Three. Cerita MOB juga mengenal teknik Riffing dan Battle yang disebut Baku Sepak atau Baku Toki, dimana si pelaku Cerita MOB dapat memasukkan orang lain atau suku/daerah lain dalam skenario yang disusunnya. Namun yang menjadi pertimbangan adalah, Cerita MOB ini memang lebih lucu jika disampaikan dalam dialek Indonesia Timur. Beberapa cerita juga memiliki ikatan erat dengan kebiasaan dan tempat-tempat yang ada di Indonesia Timur. Sehingga memang cukup sulit untuk disajikan kepada audiens yang tidak begitu memahami Kondisi Sosial yang ada di Indonesia Timur. Dan sejujurnya, menurut saya pribadi, Cerita MOB ini memiliki kekhasan tersendiri yang sulit untuk tergeser oleh pesona Stand Up Comedy.Jika Stand Up Comedy memiliki Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono, maka Cerita MOB memiliki Mr. Chicko (video cerita MOB nya juga beredar melalui situs You Tube). Namun tentu saja Stand Up Comedy dan Cerita MOB dapat saling mengisi dalam memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat dengan tidak mengesampingkan pesan-pesan sosial yang terkandung didalamnya.
Berikut beberapa Cerita MOB yang mengandung teknik Stand Up Comedy :
"Dokter ko tolong sembuhkan Nenek punya penyakit ini,.. || Baghh, Nenek,... ko tidak tahu kah, kalo saya ini dokter Hewan...???!!! || Iyow saya tau, tapi supaya ko tau Nenek ini dulu dipanggil Kupu-kupu Malam, jadi lebih baik ko obati saya sekarang anggap saja ko obati Kupu-kupu "
[ Dalam Set ini terdapat Set Up, dan Punchline diakhir cerita,.. cerita ini juga secara tidak langsung menggambarkan minim nya pelayanan kesehatan di Indonesia Timur ]
" Anak muda yang lagi makan siang di sebuah warung heran setelah diberitahu bahwa sayur yang dimakannya adalah terbuat dari Tanaman Paku (sejenis tumbuhan air) dan Bambu Muda (sebutan untuk Rebung),.. kemudian dia nyeletuk,... "Woyy, ini kita makan sayur bahaya tidak..?? yang satu daun Paku itukan tajam, trus campur lagi dengan Bambu itu juga keras... ini jangan-jangan kita Buang Air Besar sebantar yang keluar PAGAR...!!!!" (Di Indonesia Timur, Pagar Rumah atau Kebun biasanya menggunakan Bambu yang disambung dengan Paku)
[ Dalam Set ini menggunakan Rule of Three, dengan Paku, Bambu dan Pagar sebagai benang merahnya,... ]
[ Dalam Set ini terdapat Set Up, dan Punchline diakhir cerita,.. cerita ini juga secara tidak langsung menggambarkan minim nya pelayanan kesehatan di Indonesia Timur ]
" Anak muda yang lagi makan siang di sebuah warung heran setelah diberitahu bahwa sayur yang dimakannya adalah terbuat dari Tanaman Paku (sejenis tumbuhan air) dan Bambu Muda (sebutan untuk Rebung),.. kemudian dia nyeletuk,... "Woyy, ini kita makan sayur bahaya tidak..?? yang satu daun Paku itukan tajam, trus campur lagi dengan Bambu itu juga keras... ini jangan-jangan kita Buang Air Besar sebantar yang keluar PAGAR...!!!!" (Di Indonesia Timur, Pagar Rumah atau Kebun biasanya menggunakan Bambu yang disambung dengan Paku)
[ Dalam Set ini menggunakan Rule of Three, dengan Paku, Bambu dan Pagar sebagai benang merahnya,... ]
Nahhh, jadi kalau ada yang mengatakan bahwa Stand Up Comedy itu hanya merupakan Budaya yang disadur dari Luar Negeri, seperti halnya K-Pop menjelma menjadi I-Pop,... itu mungkin tidak sepenuhnya benar. Cerita MOB dan Baku Sedu (versi lain dari Manado) adalah murni budaya Indonesia. Dan apapun pilihan kita, baik menjadi penikmat Stand Up Comedy maupun Cerita MOB, selama tertawa itu masih memberi kebahagiaan, maka marilah kita tertawa bersama.
I LOVE CERITA MOB, I LOVE STAND UP COMEDY....
SALAM SATU TAWA,... STAND UP COMEDY INDO, REGIONAL MALANG... (^_^)
Senin, 02 Januari 2012
BUKAN SEKEDAR MELUCU (Part 1)
Saya mungkin tidak memiliki bakat entertainer atau mungkin tidak mencoba menggalinya. Namun ketika pertama kali melihat rekaman video Stand Up Comedy, dimana Raditya Dhika mengkritisi menjamurnya BoyBand di Indonesia, dengan gaya kocak dan tidak menggurui, saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan. Begitulah seharusnya kita menyampaikan kritik di jaman seperti ini. Mungkin masyarakat sudah jenuh dengan banyaknya wacana idealis dan kritis yang disampaikan dengan wajah serius, tapi ujung-ujungnya menguap dan menghilang bersama waktu. Berbeda dengan cara penyampaian yang dilakukan melalui konsep Stand Up Comedy, apa yang disebut tagline, bisa membekas dalam kurun waktu lama dalam benak seseorang. Contohnya saja ungkapan "cemungudh Eaa Kakaaa" yang dilontarkan oleh Raditya Dhika untuk mengkritisi betapa gaya berbahasa anak-anak jaman sekarang begitu beragam dimana salah satunya adalah gaya bahasa gaul anak-anak Alay.
Jadi, saya pun berikhtiar untuk melakukan hal serupa, melakukan Stand Up Comedy. Menurut saya ada dua hal yang menjadikan media Stand Up Comedy ini patut untuk dimasyarakatkan Pertama, Stand Up Comedy merupakan bentuk komedi cerdas yang saat ini masih cukup langka.., dan Kedua, Stand Up Comedy tidak hanya mengenai celotehan-celotehan lucu atau anekdot semata, melainkan jauh didalamnya ada pesan moral dalam mengkritisi kondisi real yang berkembang di masyarakat.
Jadi, saya pun berikhtiar untuk melakukan hal serupa, melakukan Stand Up Comedy. Menurut saya ada dua hal yang menjadikan media Stand Up Comedy ini patut untuk dimasyarakatkan Pertama, Stand Up Comedy merupakan bentuk komedi cerdas yang saat ini masih cukup langka.., dan Kedua, Stand Up Comedy tidak hanya mengenai celotehan-celotehan lucu atau anekdot semata, melainkan jauh didalamnya ada pesan moral dalam mengkritisi kondisi real yang berkembang di masyarakat.
Saya juga bosan menertawai orang yang mulutnya disumpal gabus...!!!
Saya lantas membaca tulisan Pandji Pragiwaksono yang diantaranya membahas mengenai cara melakukan Stand Up Comedy, ternyata memang sesuai judul tulisan tersebut, melakukan Stand Up Comedy itu memang "Susah Tapi Pasti Bisa"... bagian terakhir itulah yang saya genggam erat-erat didalam sanubari saya,.. Pasti Bisa,... Saya pun melakukan observasi dengan menyimak tayangan-tayangan rekaman video Stand Up Comedy, baik dalam maupun luar negeri. Mencoba mentertawakan lelucon Russel Peter sembari membolak-balik kamus Inggris-Indonesia, dan tertawa sembari manggut-manggut melihat lelucon Pandji mengenai legalisasi Ganja di Indonesia. Saya juga menemukan komunitas Stand Up Comedy di Kota Malang setelah melakukan browsing di dunia maya, berkenalan dengan salah satu anggotanya dan mencoba membangun komunikasi dengan mereka. Komunitas Stand Up Comedy Malang rupanya telah menghelat Open Mic pertamanya pada akhir oktober lalu, dan saya pun melewatkan moment tersebut. Tapi biarlah, saya juga belum menemukan materi untuk melakukan Stand Up Comedy ini, maka saya pun bersemangat menunggu moment berikutnya. Saya lantas berkonsultasi dengan Reggy Hasibuan, salah satu perintis Stand Up Comedy di Indonesia. Ia kebetulan cukup perhatian dalam membangun komunitas Stand Up Comedy di Kota Malang. Melalui Reggy, saya memperoleh beberapa informasi mengenai teknik menyusun skenario dan membangun potensi kelucuan saat melakukan Stand Up Comedy. Jadi, ternyata melakukan Stand Up Comedy itu ada tekniknya, itu juga saya baru tahu. Dengan dorongan moril dari Mas Tyok Adityo Setyo, saya pun memantapkan diri untuk menyusun sebuah skenario materi Stand Up saya yang pertama.
Akhirnya, pada pertengahan Desember lalu, 2nd Open Mic Stand Up Comedy Malang pun dihelat. Saya memberanikan diri untuk turut serta menyampaikan materi sebagai pengisi acara. Menjadi Comic (Comedian with Mic) itulah istilah untuk orang melakukan Stand Up Comedy. Setelah melakukan teknikal meeting, dan bertemu dengan comic-comic lainnya, saya juga menyempatkan diri untuk melakukan survey lokasi ke tempat event 2nd Open Mic ini diadakan, biar nantinya gak demam panggung. Benar saja, setelah survey sambil cangkrukan di Ria Djenaka Cafe yang akan menjadi venue event ini saya pun mendapat inspirasi tambahan dari poster yang dipajang disalah satu sudut ruangannya. Hebatnya lagi, poster itu juga tetap berada di Background Stage yang akan digunakan untuk perform Stand Up Comedy,.... Perfecto...!!! (Survey Lokasi memang sudah menjadi kebiasaan kami dengan latar belakang studi Tata Ruang, untuk lebih menguasai kondisi lapangan saat melakukan presentasi penataan ruang suatu daerah,.. jadi nyambung kan,...hohoho,..)
Tanggal 18 Desember 2011, 2nd Open Mic Stand Up Comedy Malang digelar, dan saya tampil sebagai Comic ketiga. Materi hanya sepintas saja ada dalam benak. Instruksi Reggy Hasibuan untuk menuliskan script secara detail tidak saya jalankan dengan baik. Fokus saya malam ini adalah, penonton harus tertawa, itu dulu, cukup itu saja dulu. Dan giliran saya tampil pun tiba. Comic pertama dan kedua telah cukup sukses membawakan materinya, dan sekarang saya, giliran saya, MC Neela Ida Milan telah mengumumkan nama saya,.. Inilah saatnya... Setalah satu tarikan napas panjang saya pun bergegas menuju panggung pertunjukkan. Dalam beberapa detik kemudian, saya menemukan diri saya berdiri sendiri saja diatas panggung hanya ditemani sebuah gagang microphone, dan semua mata tertuju kepada saya. Saya membatin lagi, ini harus sesuai bayangan saya, saya akan lucu dan kalian akan tertawa, begitulah kira-kira makna yang tersirat ketika saya membalas tatapan mata para penonton. Saya pun meluncurkan kata sambutan, merangkul poster muram wajah Jimi Hendrix yang ada dilatar panggung sebagai materi saya, dan tawa itu pun pecah..., syukurlah....
Tawa para penonton yang berderai itu ibarat oase ditengah gurun. Untuk bentuk pementasan seperti Stand Up Comedy ini, penilaiannya sangat Subyektif dan Spontan. Jadi anda tidak dapat memaksakan seseorang untuk mengapresiasi anda atau memohon untuk mereka tertawa ketika menyampaikan lelucon anda. Sehingga ketika pertama kali mendengarkan tawa penonton berderai saat saya menyampaikan materi, itu seperti mendengar orasi Bung Tomo yang memompa semangat Arek-arek Suroboyo ketika perang mempertahankan kemerdekaan,... dan semangat saya diatas panggung Stand Up Comedy pun terbakar. Tawa penonton itulah yang membuat saya berani untuk terus mengeksplorasi materi pertama saya diatas panggung Stand Up Comedy selama kurang lebih 8 menit. Sungguh delapan menit yang berharga. Delapan menit itulah yang membuktikan bahwa saya bisa melakukannya dan saya sudah memulainya. Setelah pertunjukan pertama itu saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Seperti tidak sabar untuk menanti kesempatan berikutnya.
Saya kecanduan melakukan Stand Up Comedy.
***
Pertama kali melakukan Stand Up Comedy,
Pertama kali melakukan Stand Up Comedy,
Event 2nd Open-Mic StandUp Comedy Malang,
18 Desember 2011 @Ria Djenaka Cafe, Malang
Langganan:
Postingan (Atom)



