Jumat, 05 Juni 2015

KOMEDIAN SEBAIKNYA SENSITIF

Kemarin sempat memanas, kejadian Komika yang menuai protes dari seorang penyanyi karena dianggap mengeluarkan jokes yang merendahkan personilnya. Bagi saya ini adalah resiko yang bisa menimpa siapa saja yang memutuskan hadir di panggung komedi. Apakah sang penyanyi salah dan terlalu sensitif? Bagi saya tidak sama sekali. Adalah hak dia untuk merasa terganggu dengan apa yang terjadi di atas panggung. Apakah komediannya melakukan kesalahan? Bisa iya, bisa juga tidak. Karena roasting, adalah salah satu teknik yang dipelajari dalam komedi. Namun yang pasti, ketika sebuah konten komedi yang isinya bertujuan untuk menghibur, ternyata berbalik menjadi masalah untuk komediannya, menurut saya itu adalah bagian dari resiko yang harus diterima oleh komediannya. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan orang lain terlalu sensitif ketika kita melakukan roasting terhadap mereka dan mereka sakit hati. Bisa saja itu memang kekeliruan komika dalam menempatkan posisi.

Saya mau coba sotoy, mengulas sedikit saja, karena ini berkaitan dengan teknik dalam melakukan Stand Up Comedy. Berdasarkan pemahaman yang saya pahami dari mempelajari komedi melalui Reggy Hasibuan, Ernest Prakasa, Pandji, Raditya Dika, Adriano, Ge Pamungkas, dan banyak komika yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, ada beberapa hal yang penting untuk diingat ketika melibatkan orang lain dalam jokes yang kita sampaikan.

Dalam Stand Up Comedy, ada beberapa teknik yang digunakan saat kita melibatkan orang lain sebagai bagian dari materi kita. Diantaranya Riffing, Roasting, dan Ripping. Dalam pemahaman saya, Riffing, Roasting, dan Ripping ini berbeda tingkat intensitasnya ketika kita tujukan pada orang lain. Sehingga tidak setiap saat bisa digunakan.

Riffing, cenderung lebih aman dan halus. Kita melibatkan penonton atau lingkungan sekitar sebagai materi. Sedapat mungkin tidak begitu menyinggung perasaan mereka atau yang berkenaan dengan obyek yang kita riffing (meskipun untuk kebutuhan komedi memang unsur menjatuhkannya tidak dapat kita hindari). Riffing, benar-benar ditujukan untuk kepentingan hiburan semata. Resikonya cenderung kecil dibandingkan roasting dan ripping. Meskipun demikian, penting bagi komika untuk memahami resiko yang mungkin hadir ketika melontarkan jokes menggunakan riffing ini. Persetujuan obyek yang dijadikan materi riffing tidak begitu dibutuhkan, dengan pertimbangan bahwa komikanya harus cukup sensitif untuk menimbang materi yang dia lontarkan tidak akan menimbulkan masalah yang berarti. Just for fun.

Roasting, intensitasnya lebih tinggi dibandingkan riffing. Materi yang disampaikan memang menjadikan kelemahan obyek roasting sebagai bahan bakunya. Semakin menjatuhkan biasanya semakin lucu. Bisa juga memunculkan fakta-fakta tentang obyek tersebut lalu dibenturkan dengan kondisi yang kontradiktif sehingga bisa menimbulkan jokes. Bagi saya, ketika melakukan roasting ini, kita harus mempertimbangkan dua hal. Yang pertama, persetujuan dari obyek yang akan kita roasting. Ini penting, sebab ketika komika dan obyek roasting sudah sepaham, maka obyek roasting ini sudah tahu resiko apa yang akan dia hadapi sehingga kemungkinan muncul protes dari obyek roasting dapat diminimalisir. Yang kedua, sensitifitas komika dalam mengukur materi roasting yang dia lontarkan akan diterima sebagai sesuatu yang lucu bagi penonton, bukan sekedar cercaan. Jika cara menjatuhkan yang dilakukan komika terhadap obyek roastingnya berlebihan, kemungkinan penonton malah akan merasa kasihan pada obyek roasting yang akhirnya menyebabkan mereka tidak menertawakan jokes yang dilontarkan.

Ripping, adalah bentuk yang paling kasar dari komedi yang berhubungan dengan interaksi dengan orang lain. Unsur komedi menjadi pertimbangan terakhir, yang diutamakan adalah menjatuhkan sasaran ripping ini. Sangat jarang komika sampai harus melakukan ripping ini. Biasanya ini dilakukan jika ada orang yang menganggu jalannya pertunjukan dan kehadirannya membuat tidak nyaman bagi semua penonton yang ada. Biasanya menjatuhkan orang yang mengganggu ini, justru akan menghadirkan tawa dari penonton lainnya. Yang harus dipastikan adalah, penonton lain merasa terganggu dengan kehadiran dia sehingga perlu bagi komika melakukan ripping. Lagi-lagi komika dituntut untuk lebih sensitif menanggapi situasi yang terjadi. Tawa penonton yang hadir ketika kita melakukan ripping, menunjukkan persetujuan penonton terhadap apa yang kita lakukan.

Semua ini kembali lagi kepada sensitifitas komika itu sendiri. Meskipun demikian, sebagai komika kita mungkin suatu saat akan mengalami keseleo lidah yang menyebabkan orang lain tersinggung atas materi komedi yang kita tawarkan. Karena itu, komika sebaiknya cermat menempatkan posisi. Ketersinggungan orang lain, mungkin salah satu resiko pekerjaan yang wajib kita waspadai, selain tentu saja materi yang kurang lucu.

Itu saja seh yang bisa saya tuliskan dalam kesempatan ini
Semoga tidak ada gunanya sama sekali buat kalian yang membaca.
Semoga membaca tulisan ini, hanya menghabiskan waktu kalian.
Karena saya juga sudah membuang-buang waktu untuk menulis ini semua.

VIVA LA KOMTUNG..!!! LETS MAKE LAUGH..!!! SALAM SATU TAWA..!!!

4 komentar:

  1. Siapa bilang tidak berguna?
    Tulisan ini keren sekali, bang. Jadi tahu ternyata menjadi comik itu gk mudah, apalagi saat mencari materi baru.

    Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya, bang.
    Sukses terus

    BalasHapus
  2. Roasting itu agak berbeda --> you roast somebody out of respect. Jadi acara roasting memang menampilkan roaster-roaster (gak selalu harus standup comedian) yang respect sama orang yang akan di-roast. Adalah sebuah kehormatan yang besar bila ada orang-orang yang mau ngeroast elo, artinya lo diakui prestasi, dll-nya

    BalasHapus
  3. sip. memahami ini berguna bagi para komedian agar tidak terlalu sensitive

    BalasHapus