Kemarin sempat memanas, kejadian Komika yang menuai protes dari seorang penyanyi karena dianggap mengeluarkan jokes yang merendahkan personilnya. Bagi saya ini adalah resiko yang bisa menimpa siapa saja yang memutuskan hadir di panggung komedi. Apakah sang penyanyi salah dan terlalu sensitif? Bagi saya tidak sama sekali. Adalah hak dia untuk merasa terganggu dengan apa yang terjadi di atas panggung. Apakah komediannya melakukan kesalahan? Bisa iya, bisa juga tidak. Karena roasting, adalah salah satu teknik yang dipelajari dalam komedi. Namun yang pasti, ketika sebuah konten komedi yang isinya bertujuan untuk menghibur, ternyata berbalik menjadi masalah untuk komediannya, menurut saya itu adalah bagian dari resiko yang harus diterima oleh komediannya. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan orang lain terlalu sensitif ketika kita melakukan roasting terhadap mereka dan mereka sakit hati. Bisa saja itu memang kekeliruan komika dalam menempatkan posisi.
Saya mau coba sotoy, mengulas sedikit saja, karena ini berkaitan dengan teknik dalam melakukan Stand Up Comedy. Berdasarkan pemahaman yang saya pahami dari mempelajari komedi melalui Reggy Hasibuan, Ernest Prakasa, Pandji, Raditya Dika, Adriano, Ge Pamungkas, dan banyak komika yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, ada beberapa hal yang penting untuk diingat ketika melibatkan orang lain dalam jokes yang kita sampaikan.
Dalam Stand Up Comedy, ada beberapa teknik yang digunakan saat kita melibatkan orang lain sebagai bagian dari materi kita. Diantaranya Riffing, Roasting, dan Ripping. Dalam pemahaman saya, Riffing, Roasting, dan Ripping ini berbeda tingkat intensitasnya ketika kita tujukan pada orang lain. Sehingga tidak setiap saat bisa digunakan.
Riffing, cenderung lebih aman dan halus. Kita melibatkan penonton atau lingkungan sekitar sebagai materi. Sedapat mungkin tidak begitu menyinggung perasaan mereka atau yang berkenaan dengan obyek yang kita riffing (meskipun untuk kebutuhan komedi memang unsur menjatuhkannya tidak dapat kita hindari). Riffing, benar-benar ditujukan untuk kepentingan hiburan semata. Resikonya cenderung kecil dibandingkan roasting dan ripping. Meskipun demikian, penting bagi komika untuk memahami resiko yang mungkin hadir ketika melontarkan jokes menggunakan riffing ini. Persetujuan obyek yang dijadikan materi riffing tidak begitu dibutuhkan, dengan pertimbangan bahwa komikanya harus cukup sensitif untuk menimbang materi yang dia lontarkan tidak akan menimbulkan masalah yang berarti. Just for fun.
Roasting, intensitasnya lebih tinggi dibandingkan riffing. Materi yang disampaikan memang menjadikan kelemahan obyek roasting sebagai bahan bakunya. Semakin menjatuhkan biasanya semakin lucu. Bisa juga memunculkan fakta-fakta tentang obyek tersebut lalu dibenturkan dengan kondisi yang kontradiktif sehingga bisa menimbulkan jokes. Bagi saya, ketika melakukan roasting ini, kita harus mempertimbangkan dua hal. Yang pertama, persetujuan dari obyek yang akan kita roasting. Ini penting, sebab ketika komika dan obyek roasting sudah sepaham, maka obyek roasting ini sudah tahu resiko apa yang akan dia hadapi sehingga kemungkinan muncul protes dari obyek roasting dapat diminimalisir. Yang kedua, sensitifitas komika dalam mengukur materi roasting yang dia lontarkan akan diterima sebagai sesuatu yang lucu bagi penonton, bukan sekedar cercaan. Jika cara menjatuhkan yang dilakukan komika terhadap obyek roastingnya berlebihan, kemungkinan penonton malah akan merasa kasihan pada obyek roasting yang akhirnya menyebabkan mereka tidak menertawakan jokes yang dilontarkan.
Ripping, adalah bentuk yang paling kasar dari komedi yang berhubungan dengan interaksi dengan orang lain. Unsur komedi menjadi pertimbangan terakhir, yang diutamakan adalah menjatuhkan sasaran ripping ini. Sangat jarang komika sampai harus melakukan ripping ini. Biasanya ini dilakukan jika ada orang yang menganggu jalannya pertunjukan dan kehadirannya membuat tidak nyaman bagi semua penonton yang ada. Biasanya menjatuhkan orang yang mengganggu ini, justru akan menghadirkan tawa dari penonton lainnya. Yang harus dipastikan adalah, penonton lain merasa terganggu dengan kehadiran dia sehingga perlu bagi komika melakukan ripping. Lagi-lagi komika dituntut untuk lebih sensitif menanggapi situasi yang terjadi. Tawa penonton yang hadir ketika kita melakukan ripping, menunjukkan persetujuan penonton terhadap apa yang kita lakukan.
Semua ini kembali lagi kepada sensitifitas komika itu sendiri. Meskipun demikian, sebagai komika kita mungkin suatu saat akan mengalami keseleo lidah yang menyebabkan orang lain tersinggung atas materi komedi yang kita tawarkan. Karena itu, komika sebaiknya cermat menempatkan posisi. Ketersinggungan orang lain, mungkin salah satu resiko pekerjaan yang wajib kita waspadai, selain tentu saja materi yang kurang lucu.
Itu saja seh yang bisa saya tuliskan dalam kesempatan ini
Semoga tidak ada gunanya sama sekali buat kalian yang membaca.
Semoga membaca tulisan ini, hanya menghabiskan waktu kalian.
Karena saya juga sudah membuang-buang waktu untuk menulis ini semua.
VIVA LA KOMTUNG..!!! LETS MAKE LAUGH..!!! SALAM SATU TAWA..!!!
Jumat, 05 Juni 2015
Kamis, 21 Mei 2015
STAND UP COMEDY HARUS MEMASYARAKAT
Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan beberapa kawan yang sudah lebih dulu berkecimpung dalam dunia entertainment dan menanyakan perihal Stand Up Comedy. Mereka sebenarnya punya ketertarikan untuk mencoba melakukan Stand Up Comedy, tetapi kuatir karena mendengarkan label "Smart Comedy", yang disematkan pada Stand Up Comedy. Mereka beranggapan bahwa mereka harus mendalami tekniknya dulu baru bisa melakukan Stand Up Comedy. Menurut saya tidak mesti demikian. Dan saya rasa ada yang sedikit keliru mengenai image Stand Up Comedy diluar sana. Sebagai suatu aliran seni, saya melihat Stand Up Comedy semakin ekslusif bukannya malah memasyarakat.
Jadi kalau menurut saya sih, siapapun boleh, bisa, dan berhak melakukan Stand Up Comedy. Tidak harus memiliki label komedian atau anggota komunitas Stand Up Comedy. Perkara lucu atau tidak lucu, itu belakangan. Jika ada suatu hal yang ingin diceritakan dan ingin dikemas menyenangkan untuk didengarkan, maka Stand Up Comedy adalah kemasan yang sesuai. Bagi saya, hal yang utama dalam melakukan Stand Up Comedy, adalah naik keatas panggung lalu menceritakan sesuatu. Itu dulu. Lucu, ya sebaiknya memang lucu. Sesuai dengan teknik dasar Stand Up Comedy? ya gak harus juga.
Karena bagi saya Stand Up Comedy itu sepenuhnya adalah Seni.
Seni, sama halnya seperti tarik suara. Hampir semua dari kita, pernah menyanyikan lagu di muka umum. Minimal pada saat Taman Kanak-kanak atau pelajaran kesenian. Yang kita lakukan adalah maju kedepan, dan mendendangkan sebuah lagu. Merdu? Belum tentu. Tetapi kita tetap bernyanyi. Dalam seni tarik suara, juga ada banyak teknik yang harus dikuasai. Tapi apa kita harus menguasai segala teknik itu sebelum bernyanyi. Ya gak juga. Kecuali, kita mau menjadi penyanyi profesional.
Stand Up Comedy pun demikian halnya. Dalam Stand Up Comedy juga banyak teknik yang harus dipelajari. Baik penulisan Materi maupun Delivery. Tapi apa kita harus menguasai teknik itu sebelum melakukan Stand Up Comedy? Ya gak juga. Kecuali, kalau kita tertarik menjadi komedian profesional.
Ketika saya pertama kali melakukan Stand Up Comedy, saya tidak mengetahui apapun mengenai teknik Stand Up Comedy, baik penulisan materi maupun delivery. Tetapi saya coba saja. Naik keatas panggung dan menceritakan hal-hal yang pikirkan. Lucu? Ya Alhamdulilah berhasil. Cukup menghibur pada saat itu. Ya mungkin karena pada dasarnya saya Genius #OkeLupakan. Maksud saya, Stand Up Comedy itu pada dasarnya adalah seni pertunjukkan. Seperti halnya bernyanyi, menari, melukis, puisi, atau drama. Siapa pun yang tertarik untuk melakukannya ya silahkan.
Ketika saya pertama kali melakukan Stand Up Comedy, saya tidak mengetahui apapun mengenai teknik Stand Up Comedy, baik penulisan materi maupun delivery. Tetapi saya coba saja. Naik keatas panggung dan menceritakan hal-hal yang pikirkan. Lucu? Ya Alhamdulilah berhasil. Cukup menghibur pada saat itu. Ya mungkin karena pada dasarnya saya Genius #OkeLupakan. Maksud saya, Stand Up Comedy itu pada dasarnya adalah seni pertunjukkan. Seperti halnya bernyanyi, menari, melukis, puisi, atau drama. Siapa pun yang tertarik untuk melakukannya ya silahkan.
Tidak harus menjadi penyanyi untuk bernyanyi
Tidak harus menjadi komedian untuk melakukan Stand Up Comedy
Saya percaya, setiap kita punya pemikiran atau pengalaman yang ingin diceritakan.
Stand Up Comedy adalah salah satu pilihan ruang untuk mengekspresikan itu. Mungkin akan lebih mudah jika kita tahu dimana letak kelucuannya. Sehingga ketika bercerita diatas panggung, kita tahu apa yang akan kita sampaikan. Mungkin menuliskannya terlebih dahulu akan lebih memudahkan kita. Tetapi yang terutama adalah kita harus melihat panggung itu sebagai tempat untuk berbagi kisah.
Jadi siapapun anda di luar sana, pejabat, artis, dosen, pelajar yang lagi jerawatan, mahasiswa semester akhir, ibu rumah tangga, pacar yang baik, jomblo yang merana, pengangguran yang tabah, siapapun anda, jika mempunyai sesuatu yang ingin anda ceritakan, jangan ragu untuk mencoba panggung Stand Up Comedy. Lucu dan teknik belakangan. Berbagi cerita itu menyenangkan dan melegakan.
Jika anda penasaran ingin melakukan Stand Up Comedy, datangi saja Cafe atau Komunitas Stand Up Comedy yang menyelenggarakan Open Mic yang terdekat di Kota anda. Open Mic pada hakikatnya adalah event yang terbuka untuk siapa saja yang ingin mecoba melakukan Stand Up Comedy, siapapun yang bersedia.
Mari berbagi cerita dan mari bersenang-senang.
Mari berbagi cerita dan mari bersenang-senang.
Viva La Komtung
NB :
Tapi kalau garing sebenarnya memang sedikit memalukan seh, tapi gak apa-apa, kadang disitulah letak kelucuannya. Seperti halnya kalau nyanyi terus fals, ya disitulah letak kelucuannya. :D
Tapi kalau garing sebenarnya memang sedikit memalukan seh, tapi gak apa-apa, kadang disitulah letak kelucuannya. Seperti halnya kalau nyanyi terus fals, ya disitulah letak kelucuannya. :D
Jumat, 01 Mei 2015
PERKARA KEKASIH
Biar saja waktu yang menentukan
Bukankah kita hanya manusia yang menjalani takdir
Takdir yang menyapa melalui perjalanan waktu
Jika dia telah menghampirimu, apalah dayamu menghindari
Tetapi mengenai seorang kekasih bolehlah kita berandai-andai
Mungkin saja akan dihitung sebagai doa oleh sang Maha Pengasih
Karena kita manusia pasti mengharap bertemu kekasih yang sejati
Yang membawakan kebahagiaan hingga maut menghampiri
Mengenai sosok kekasih, saya rasa tidaklah sesederhana mencari sosok yang menerima kita apa adanya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tapi bagi saya yang terutama adalah sosok yang memiliki pemikiran. Saya pribadi melihat perempuan sebagai pasangan hidup, itu sebagai pelengkap, bukan sekedar perhiasan.
Saya berharap bisa bertemu sosok perempuan yang bisa menikahi pikiran dan gagasan saya tentang dunia. Karena itu yang terpenting bagi saya. Menyatukan dua pemikiran ini luas dan butuh kesabaran. Bukan berarti menyamakan, tetapi lebih pada menyepakati hal-hal yang dirasakan prinsipil. Pemikiran tentang agama, keluarga, pendidikan, bangsa, ekonomi, pekerjaan, dan banyak hal lainnya. Kita harus bisa menyelami isi kepala masing-masing.
Saya berharap bertemu kekasih yang kuat jiwanya. Yang menanyakan, apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu hari ini bahagia? Apa kamu merasa masih menjadi orang baik? Apa yang kamu kuatirkan? Apa yang bisa kulakukan?
Pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kalau dia ada untuk kita dan peduli dengan kita.
Pasti membosankan mendapatkan pertanyaan, sudah makan belum? Kamu dimana? Sama siapa? Kamu sedang apa? Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya lebih menunjukkan kelemahan daripada perhatian.
Sudah makan belum? (nanti kalau kamu mati saya sama siapa)
Kamu dimana? (bukan ditempat selingkuhan atau tempat prostitusi kan?)
Sama siapa? (bukan sama perempuan yang kamu rasa lebih baik dari aku kan?)
Sedang apa? (Gak lagi sedang bercinta dengan wanita lain kan?)
Sampai sekarang beberapa kali menemukan sosok seperti itu. Jadi sosok perempuan seperti ini bukan yang ada dalam dongeng atau fiksi semata. Dan mungkin ada yang berpikir, saya sehebat apa sampai mematok standart untuk pasangan hidup. Terserah, saya berharap hanya akan menikah sekali seumur hidup saya, makanya saya harus mencari yang bisa menerima cara berpikir saya. Karena selama ini saya merasa, saya bisa memaklumi banyak hal, kecuali apa yang hadir dari dalam pikiran seseorang.
Bagi saya, pasangan hidup itu untuk saya sendiri. Suatu saat, ketika orang tua pergi, ketika anak-anak sudah memiliki kehidupannya sendiri, maka kekasihlah yang akan ada disamping kita menemani hari-hari tua. Maka sudah selayaknya mencari sosok yang bisa menyenangkan ketika diajak berbicara hingga berpuluh-puluh tahun berikutnya.
Jadi kapan mau menentukan pasangan dan menikah?
Kalau Tuhan sudah menjawab doa saya, dan memerintahkan waktu untuk mempertemukan kami.
Bukankah kita hanya manusia yang menjalani takdir
Takdir yang menyapa melalui perjalanan waktu
Jika dia telah menghampirimu, apalah dayamu menghindari
Tetapi mengenai seorang kekasih bolehlah kita berandai-andai
Mungkin saja akan dihitung sebagai doa oleh sang Maha Pengasih
Karena kita manusia pasti mengharap bertemu kekasih yang sejati
Yang membawakan kebahagiaan hingga maut menghampiri
Mengenai sosok kekasih, saya rasa tidaklah sesederhana mencari sosok yang menerima kita apa adanya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tapi bagi saya yang terutama adalah sosok yang memiliki pemikiran. Saya pribadi melihat perempuan sebagai pasangan hidup, itu sebagai pelengkap, bukan sekedar perhiasan.
Saya berharap bisa bertemu sosok perempuan yang bisa menikahi pikiran dan gagasan saya tentang dunia. Karena itu yang terpenting bagi saya. Menyatukan dua pemikiran ini luas dan butuh kesabaran. Bukan berarti menyamakan, tetapi lebih pada menyepakati hal-hal yang dirasakan prinsipil. Pemikiran tentang agama, keluarga, pendidikan, bangsa, ekonomi, pekerjaan, dan banyak hal lainnya. Kita harus bisa menyelami isi kepala masing-masing.
Saya berharap bertemu kekasih yang kuat jiwanya. Yang menanyakan, apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu hari ini bahagia? Apa kamu merasa masih menjadi orang baik? Apa yang kamu kuatirkan? Apa yang bisa kulakukan?
Pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kalau dia ada untuk kita dan peduli dengan kita.
Pasti membosankan mendapatkan pertanyaan, sudah makan belum? Kamu dimana? Sama siapa? Kamu sedang apa? Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya lebih menunjukkan kelemahan daripada perhatian.
Sudah makan belum? (nanti kalau kamu mati saya sama siapa)
Kamu dimana? (bukan ditempat selingkuhan atau tempat prostitusi kan?)
Sama siapa? (bukan sama perempuan yang kamu rasa lebih baik dari aku kan?)
Sedang apa? (Gak lagi sedang bercinta dengan wanita lain kan?)
Sampai sekarang beberapa kali menemukan sosok seperti itu. Jadi sosok perempuan seperti ini bukan yang ada dalam dongeng atau fiksi semata. Dan mungkin ada yang berpikir, saya sehebat apa sampai mematok standart untuk pasangan hidup. Terserah, saya berharap hanya akan menikah sekali seumur hidup saya, makanya saya harus mencari yang bisa menerima cara berpikir saya. Karena selama ini saya merasa, saya bisa memaklumi banyak hal, kecuali apa yang hadir dari dalam pikiran seseorang.
Bagi saya, pasangan hidup itu untuk saya sendiri. Suatu saat, ketika orang tua pergi, ketika anak-anak sudah memiliki kehidupannya sendiri, maka kekasihlah yang akan ada disamping kita menemani hari-hari tua. Maka sudah selayaknya mencari sosok yang bisa menyenangkan ketika diajak berbicara hingga berpuluh-puluh tahun berikutnya.
Jadi kapan mau menentukan pasangan dan menikah?
Kalau Tuhan sudah menjawab doa saya, dan memerintahkan waktu untuk mempertemukan kami.
![]() |
| Neh saya kasih gambar seorang cowok di tepi pantai Biar romantisnya maksimal, whuhuhuuyyy,.. |
Kamis, 30 April 2015
SARAPAN PAGI
Pagi ini, tiba-tiba saya merindukan sarapan pagiku yang dulu
Yang disuguhkan ibu sebelum berangkat sekolah
Tidak begitu bergizi sebenarnya, sekedar biar tidak kelaparan
Cukup untuk menjaga agar tidak pingsan saat upacara hari senin
Teh panas manis selalu hadir diatas meja
Yang disuguhkan ibu sebelum berangkat sekolah
Tidak begitu bergizi sebenarnya, sekedar biar tidak kelaparan
Cukup untuk menjaga agar tidak pingsan saat upacara hari senin
Teh panas manis selalu hadir diatas meja
Kata ibu teh panas manis baik untuk menghalau dingin pagi hari
Teh panas manis juga bisa mencegah sakit kepala katanya
Biar konsentrasi belajar, harus minum teh manis panas
Kalau lagi tanggal muda biasanya ada Pisang Goreng
Atau bubur panas ditambah kecap manis dan ikan goreng
Kadang buburnya dicampur juga dengan kacang hijau
Sarapan di tanggal muda begitu menyenangkan
Pertengahan hingga akhir bulan sarapan berbeda
Kadang hanya teh manis dan bubur putih
Tidak ada cukup uang untuk dipakai membeli kecap
Apalagi membeli kacang hijau, lupakan
Tapi ibu juga tidak kekurangan akal
Nasi sisa semalam disulap menjadi sarapan
Nasi dingin itu digoreng dengan banyak garam
Sarapan ditanggal tua rasanya asin, tapi lumayanlah
Sekarang saya jarang sarapan, sejak jauh dari rumah
Kadang malas keluar, kadang karena kesiangan
Seringkali rindu sarapan bersama keluarga di rumah
Rindu teh panas manis yang dibuatkan langsung oleh ibu
Kamis, 16 April 2015
Anak Manja, Jauhi Alam Bebas
Hey anak manja, bisakah kalian jauhi alam bebas?
Sebelum kalian pahami aturan main ketika ke alam bebas
Karena sepertinya kehadiran kalian justru merusak keharmonisan
Tolonglah jauhi, mungkin alam bebas bukan tempat kalian.
Bisakah kalian menghabiskan waktu di Mall saja
Yang sejuk karena AC dan ada Cleaning Servicenya
Sesuka hati kalianlah di Mall, mau buang sampah dimana saja terserah.
Hey anak manja, yang meninggalkan sampahnya di alam bebas
Papi Mami kamu pasti tidak pernah mengingatkan
Bahwa di alam bebas tidak ada Cleaning Service-nya
Tapi harusnya otakmu bisa memikirkan itu, kalau saja kamu tidak manja.
Hey anak manja, apa yang kamu cari di alam bebas?
Photo dengan background alam yang bisa kamu pamerkan di akun instagram
Bahan buat tulisan di Blog untuk menyombongkan kebiasaanmu berpetualang
Tapi selebihnya apa? Sampahmu kamu tinggalkan disana. Bangsat kalian..!!!
Hey anak manja, menjauhlah dari alam bebas
Selama kamu dan kemanjaanmu belum tahu aturan main
Camkan dalam otakmu yang selalu dipuja puji Mami Papimu itu
Alam bebas bukanlah tempat untuk memuaskan nafsumu akan eksistensi
Alam bebas bukanlah tempat untuk memuaskan nafsumu akan eksistensi
Ingatlah sekali lagi,
Hey anak manja, yang petantang petenteng pakai duit orang tua
Alam bebas bukanlah tempat untuk memuaskan nafsumu akan eksistensi
Jadi Anak Manja, Mulai Sekarang Menjauhlah dari Alam Bebas..!!!
- Untuk Anak Manja yang menodai Pulau Sempu, Bangsat kalian..!!! -
Langganan:
Postingan (Atom)


