Penasaran banget nyobain Stand Up,...
Pengen tahu, apakah saya orangnya bisa membuat orang lain tertawa,...
Smoga kesempatan itu segera datang,....
Kalau pun nanti Blank, Gak Lucu, Crispy, de es be,...
Gak apa2, setidaknya saya sudah mencoba,...>
Materi RAMBUT KRITING,... menanti untuk di Expose,...
Rabu, 30 November 2011
Kamis, 20 Oktober 2011
Having a Coke With You
is even more fun than going to San Sebastian, IrĂșn, Hendaye, Biarritz, Bayonne
or being sick to my stomach on the Travesera de Gracia in Barcelona
partly because in your orange shirt you look like a better happier St. Sebastian
partly because of my love for you, partly because of your love for yoghurt
partly because of the fluorescent orange tulips around the birches
partly because of the secrecy our smiles take on before people and statuary
it is hard to believe when I’m with you that there can be anything as still
as solemn as unpleasantly definitive as statuary when right in front of it
in the warm New York 4 o’clock light we are drifting back and forth
between each other like a tree breathing through its spectacles
partly because in your orange shirt you look like a better happier St. Sebastian
partly because of my love for you, partly because of your love for yoghurt
partly because of the fluorescent orange tulips around the birches
partly because of the secrecy our smiles take on before people and statuary
it is hard to believe when I’m with you that there can be anything as still
as solemn as unpleasantly definitive as statuary when right in front of it
in the warm New York 4 o’clock light we are drifting back and forth
between each other like a tree breathing through its spectacles
and the portrait show seems to have no faces in it at all, just paint
you suddenly wonder why in the world anyone ever did them
you suddenly wonder why in the world anyone ever did them
I look at you and I would rather look at you than all the portraits in the world
except possibly for the Polish Rider occasionally and anyway it’s in the Frick
which thank heavens you haven’t gone to yet so we can go together the first time
and the fact that you move so beautifully more or less takes care of Futurism
just as at home I never think of the Nude Descending a Staircase or
at a rehearsal a single drawing of Leonardo or Michelangelo that used to wow me
and what good does all the research of the Impressionists do them
when they never got the right person to stand near the tree when the sun sank
or for that matter Marino Marini when he didn’t pick the rider as carefully as the horse
except possibly for the Polish Rider occasionally and anyway it’s in the Frick
which thank heavens you haven’t gone to yet so we can go together the first time
and the fact that you move so beautifully more or less takes care of Futurism
just as at home I never think of the Nude Descending a Staircase or
at a rehearsal a single drawing of Leonardo or Michelangelo that used to wow me
and what good does all the research of the Impressionists do them
when they never got the right person to stand near the tree when the sun sank
or for that matter Marino Marini when he didn’t pick the rider as carefully as the horse
it seems they were all cheated of some marvelous experience
which is not going to go wasted on me which is why I am telling you about it
which is not going to go wasted on me which is why I am telling you about it
Frank O’Hara
Rabu, 21 September 2011
CUCI OTAK
Hari ini aku lelah sekali, lelah jiwa dan raga. Hidupku seperti berputar-putar dalam suatu sirkuit maze yang buram, tidak jelas lagi dimana ujung pangkalnya, dan aku tersesat. Pusaran tanggung jawab yang menghimpitku, bergotong royong mendera, meminta perhatian pada saat yang bersamaan. Dan pertanyaan itu kembali lagi menghampiri, "sebenarnya untuk apa semua ini...???"
Didalam benak ini semua tumpang tindih, kusut dan bergejolak. Ibarat gunung berapi. hanya menunggu detik-detik terakhir saja untuk memuntahkan lava pijar dan membakar semuanya. Aku ingin sekali membakar semuanya. Meluluh lantakkan, merobek, membuang, memecahkan, meninju, memporak-porandakan semua yang menggelayut dalam pikiran ini. Seandainya saja aku orang yang tidak mensyukuri karunia Allah SWT yang diamanatkan padaku, mungkin semuanya akan sederhana saja, seperti menggusur para pedagang kaki lima di Taman Kota
.
Tadi di Warung Kopi, temanku bilang aku ini seniman. Katanya lagi, aku ini rumit dalam berpikir. Temanku yang lain bilang, aku ini tipe orang yang menyukai hiperbola. Ada lagi yang bilang, aku ini melankolis. Satunya lagi bilang aku perfeksionis. Tapi mereka semua lantas sepakat memberi label "Keras Kepala" padaku. Saya sepenuhnya tidak menerima anggapan mereka ini, membantah habis-habisan, menolak gagasan mereka, yang menganggapku sebagai sosok arogan dengan berbagai sanggahan.
Mengapa saya mati-matian menolak anggapan itu...???
Yah..., karena saya ini Keras Kepala.
Teman-temanku di warung kopi ini, telah mengenalku hampir sewindu terakhir. Sudah tentu sedikit banyak paham karakter pribadi saya. Dan saya pun menyadari sepenuhnya kalau merekalah tempat saya harus bercermin. Pribadi buruk ataupun baik yang mereka sajikan sebagai cerminan kepribadianku, itulah refleksi diri yang harus saya terima. Jangan karena buruk rupa, cermin dibelah.
Akhirnya saya pun memahami lagi, bahwa mendengarkan perkataan orang lain tentang diri kita itu bukan berarti menunjukkan kepribadian kita yang lemah atau mudah dipengaruhi. Melainkan dapat menjadi refleksi diri kita saat ini sebagai bahan pemikiran, mungkin saja ada sesuatu yang harus dibenahi dari diri kita. Lalu kita sendiri juga yang memutuskan, apakah itu benar atau hanya cara pandang sepihak dari orang disekitar kita. Kita memutuskannya melalui proses perenungan pribadi. Ini point utamanya.
Dan bagaimana dengan pusaran tanggung jawab yang menghimpitku..???
Yang menanti saat semuanya diledakkan menjadi serpihan yang porak poranda....Teman-temanku di warung kopi ini, telah mengenalku hampir sewindu terakhir. Sudah tentu sedikit banyak paham karakter pribadi saya. Dan saya pun menyadari sepenuhnya kalau merekalah tempat saya harus bercermin. Pribadi buruk ataupun baik yang mereka sajikan sebagai cerminan kepribadianku, itulah refleksi diri yang harus saya terima. Jangan karena buruk rupa, cermin dibelah.
Akhirnya saya pun memahami lagi, bahwa mendengarkan perkataan orang lain tentang diri kita itu bukan berarti menunjukkan kepribadian kita yang lemah atau mudah dipengaruhi. Melainkan dapat menjadi refleksi diri kita saat ini sebagai bahan pemikiran, mungkin saja ada sesuatu yang harus dibenahi dari diri kita. Lalu kita sendiri juga yang memutuskan, apakah itu benar atau hanya cara pandang sepihak dari orang disekitar kita. Kita memutuskannya melalui proses perenungan pribadi. Ini point utamanya.
Dan bagaimana dengan pusaran tanggung jawab yang menghimpitku..???
Setelah cuci otak di warung kopi ini,... Saya rasa,... saya masih bisa bertahan....
BE POSITIVE, BE REAL, KEEP FIGHT, NEVER SURRENDER
----------------
Terima Kasih Telah Membaca
Terima Kasih Telah Membaca
Selasa, 02 Agustus 2011
DAN JARAK DIANTARA KITA
Adalah lautan luas yang membentang
Melalui gelombang dengan buih putih
Takkan kau dengar aku berdendang
Nyanyikan rasa rindu yang begitu perih
Aku bahkan begitu jauh dari tepi pantai
Merindukan aroma laut dan deburan ombak
Lalu bagaimanakah asa itu kan ku gapai
Semakin kupikirkan semakin rindu ini sesak
Perahu berlayar tanpa pelita
Terhempas badai karam saat pagi
Dan jarak diantara kita
Lama baru akan pergi
Selasa, 28 Juni 2011
ONCE UPON A TIME IN JAYAPURA, PAPUA
PART I ( Arrived )
Hari telah semakin senja, dan mobil yang kami tumpangi melaju melalui bukit-bukit dan kelokan-kelokan jalan dari Sentani menuju Jayapura. Pemandangan Danau Sentani menampilkan kecantikkannya yang eksotis dan mistis menghapuskan rasa lelahku dari perjalanan panjang. Sejenak aku menyadarkan diriku kembali, bahwa aku telah menginjakkan kaki ditempat ini, di Tanah Papua, bukan dalam imajinasi saja melainkan saat ini aku telah benar-benar menghirup udara, merasakan atmosfirnya, dan menikmati matahari senja yang diselimuti kabut,..... Aku telah tiba di Papua.
Nervous tetapi penuh semangat, begitulah kurang lebih yang kurasakan ketika malam mulai merambat dalam dinginnya Kota Malang. Beberapa jam lagi perjalanan panjangku menuju tempat yang lama ku impikan akan segera menjadi kenyataan. Dan aku telah berdiri didepan gerbang rumah, bahkan sebelum mobil jemputan datang. Aku menyambutnya dengan bahagia, karena tempat inilah yang sekian lama menggelayut dalam imajinasiku. Bagaimana kota-kotanya, bagaimana bangunan-bangunannya, bagaimana jalan-jalannya, bagaimana air dan udaranya, bagaimana lalu-lintasnya, dan tentu saja bagaimana orang-orang serta kehidupan mereka disana. Aku telah banyak mendengar tentang tempat ini, betapa eksotismenya senantiasa mampu membius orang-orang seperti saya, yang haus akan petualangan, bahkan sekedar melalui cerita sekalipun. Maka pada tanggal 14 Juni 2011, dini hari Waktu Indonesia Barat, aku dan beberapa helai pakaianku, bergegas meninggalkan Kota Malang untuk menjemput impianku, melihat Tanah Papua.
Setelah lima jam perjalanan, yang sebagian besar ku habiskan dengan tertidur didalam pesawat, akhirnya aku menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Tanah Papua. Bukan di Kota Jayapura, yang menjadi tujuan utamaku, melainkan Bandara Udara Kota Sorong. Meskipun hanya transit sekitar 20 menit, namun rintik hujan yang menemaniku selama berada di Bandara ini telah menegaskan padaku bahwa aku telah ada di Tanah Papua, menjejakkan kakiku dipenghujung timur negara tempat tumpah darahku. Lalu beberapa jam kemudian sampailah aku di Kota Jayapura, kota yang sekian lama telah menjadi ibukota Papua, sejak sebelum otonomi membagi Papua melalui mekanisme pemekaran daerah.
Disambut oleh Danau Sentani, dengan beberapa pulau kecil yang serupa bross dengan hiasan manik-manik yang indah (pulau sebagai bross dan atap rumah-rumah penduduk dipesisirnya sebagai manik-manik, inilah yang kubayangkan ketika melongok kebawah dari jendela pesawat) sungguh menggugahku untuk sesegera mungkin memulai perjalananku. Bandara udara yang dipenuhi oleh berbagai suku dari etnis Papua dengan perawakan yang khas membuatku merasa menjadi seorang pengelana yang berada pada tempat asing, dimana aku menjadi minoritas. Meskipun sebenarnya aku sungguh berharap bahwa kulitku yang sawo matang terbakar sehingga menjadi gelap, dan rambut ikal yang kumiliki dapat menjadikanku bagian dari mereka. Karena sejujurnya saja, isu rasial merupakan hal yang paling ku khawatirkan ditempat ini, dan bagaimanapun juga aku sedikit banyak benci jika harus mendapat label pendatang (dengan kesan yang buruk sebagai perebut kebebasan, perompak sumber daya alam, yang tidak memiliki hak apapun dengan tanah tersebut), karena tempat ini telah sekian lama ku kagumi dari tempat yang jauh. Bukankah kita tidak bisa memilih ingin dilahirkan dimana? Dan lagipula kita adalah sebangsa dan setanah air, maka menjadi pendatang dan orang asli bukanlah konsep yang ideal dalam pikiranku, ketika berbicara mengenai hak untuk mencintai alam atau kebudayaan pada suatu tempat.
Setelah lima jam perjalanan, yang sebagian besar ku habiskan dengan tertidur didalam pesawat, akhirnya aku menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Tanah Papua. Bukan di Kota Jayapura, yang menjadi tujuan utamaku, melainkan Bandara Udara Kota Sorong. Meskipun hanya transit sekitar 20 menit, namun rintik hujan yang menemaniku selama berada di Bandara ini telah menegaskan padaku bahwa aku telah ada di Tanah Papua, menjejakkan kakiku dipenghujung timur negara tempat tumpah darahku. Lalu beberapa jam kemudian sampailah aku di Kota Jayapura, kota yang sekian lama telah menjadi ibukota Papua, sejak sebelum otonomi membagi Papua melalui mekanisme pemekaran daerah.
Disambut oleh Danau Sentani, dengan beberapa pulau kecil yang serupa bross dengan hiasan manik-manik yang indah (pulau sebagai bross dan atap rumah-rumah penduduk dipesisirnya sebagai manik-manik, inilah yang kubayangkan ketika melongok kebawah dari jendela pesawat) sungguh menggugahku untuk sesegera mungkin memulai perjalananku. Bandara udara yang dipenuhi oleh berbagai suku dari etnis Papua dengan perawakan yang khas membuatku merasa menjadi seorang pengelana yang berada pada tempat asing, dimana aku menjadi minoritas. Meskipun sebenarnya aku sungguh berharap bahwa kulitku yang sawo matang terbakar sehingga menjadi gelap, dan rambut ikal yang kumiliki dapat menjadikanku bagian dari mereka. Karena sejujurnya saja, isu rasial merupakan hal yang paling ku khawatirkan ditempat ini, dan bagaimanapun juga aku sedikit banyak benci jika harus mendapat label pendatang (dengan kesan yang buruk sebagai perebut kebebasan, perompak sumber daya alam, yang tidak memiliki hak apapun dengan tanah tersebut), karena tempat ini telah sekian lama ku kagumi dari tempat yang jauh. Bukankah kita tidak bisa memilih ingin dilahirkan dimana? Dan lagipula kita adalah sebangsa dan setanah air, maka menjadi pendatang dan orang asli bukanlah konsep yang ideal dalam pikiranku, ketika berbicara mengenai hak untuk mencintai alam atau kebudayaan pada suatu tempat.
![]() |
| Salah Satu Pulau di Danau Sentani |
Kembali pada perjalanan impianku, yang dibungkus oleh tujuan melakukan sebuah survey perencanaan di Kota ini, dimana Matahari telah mulai redup ketika kami tiba di Bandara Sentani. Seorang lelaki dengan kalung Taring Babi menanyakan tempat tujuan kami. Sorot matanya tajam namun bersahabat. Kerasnya kehidupan disini terlukis dari senyumnya yang seakan dipaksakan. Setelah usahanya untuk menawarkan jasa angkutan kami tolak dengan halus ia pun berlalu, menghampiri penumpang lain untuk menawarkan jasanya. Namun beberapa saat kemudian ia kembali lagi. Mencoba membangun interaksi, kali ini sembari meminta sebatang rokok dariku, yang terpaksa tidak ku kabulkan karena menurutku ini adalah bentuk intimidasi. Tetapi tentu saja aku maklum dengan semua ini, kehidupan kami di Sulawesi pun tidak jauh berbeda. Hal seperti ini bukanlah pertama kali ku alami. Di pelabuhan, di pasar, di terminal, di jalan-jalan umum, di tempat wisata, atau di Sekolah, kejadian seperti ini telah pernah ku jumpai. Menolak bukan karena tidak ingin berbagi, tetapi untuk keadaan seperti ini, menolak berarti melepaskan diri dari intimidasi. Aku lantas menyempatkan diri untuk menghubungi seorang sahabatku di dunia maya, yang seingatku tinggal tidak jauh dari Bandara Sentani ini. Selang beberapa saat, Erick Sialagan, seorang remaja yang ku kenal melalui situs jejaring sosial, datang menemuiku di Bandara ini. Lelaki putih keturunan Medan ini baru pertama kali ku jumpai setelah setahun lebih berkomunikasi melalui dunia Maya. Tidak begitu banyak berbeda dengan profil yang ditampilkan pada akunnya, kecuali tubuhnya yang sedikit lebih besar dari yang ku perkirakan. Kami bercerita seperti biasa, jauh dari kesan orang yang baru pertama kali bersua, hal yang sama seperti yang sebelum-sebelumnya, ketika pertama kali aku bertemu karib kami dalam salah satu group jejaring sosial. Tidak ada perasaan asing sedikit pun. Kami tidak sempat bercerita banyak, karena beberapa saat kemudian, jemputan menuju penginapan di Jayapura telah datang. Dan lelaki dengan kalung Taring Babi tadi kembali menghampiri, mengatakan beberapa hal kepada penjemput kami, seorang pemuda dari Solo alumni perguruan tinggi di Malang yang telah bekerja di Jayapura. Penjemput kami ini, yang belakangan ku ketahui adalah orang yang memberikan pekerjaan ini pada kami, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang lalu berterima kasih. Lantas lelaki dengan kalung tersebut menoleh kearahku, melemparkan senyum kemenangan dan berlalu. Selamat datang kembali di belahan bumi Indonesia bagian timur, pikirku, terkenang kondisi serupa yang lazim terjadi di Sulawesi.
Hari telah semakin senja, dan mobil yang kami tumpangi melaju melalui bukit-bukit dan kelokan-kelokan jalan dari Sentani menuju Jayapura. Pemandangan Danau Sentani menampilkan kecantikkannya yang eksotis dan mistis menghapuskan rasa lelahku dari perjalanan panjang. Sejenak aku menyadarkan diriku kembali, bahwa aku telah menginjakkan kaki ditempat ini, di Tanah Papua, bukan dalam imajinasi saja melainkan saat ini aku telah benar-benar menghirup udara, merasakan atmosfirnya, dan menikmati matahari senja yang diselimuti kabut,..... Aku telah tiba di Papua.
| Di Bandara Udara Sentani - Jayapura, Papua |
|| - TO BE CONTINUED - ||
Terima Kasih telah mampir di Blog ini
Tinggalkan komentar agar saya dapat membalas kunjungan anda atau berbagi kisah dan informasi
Terima Kasih telah mampir di Blog ini
Tinggalkan komentar agar saya dapat membalas kunjungan anda atau berbagi kisah dan informasi
Langganan:
Postingan (Atom)

